Konflik Israel vs Iran
Pengamat Hubungan Internasional Sebut Ada Dua Tujuan Utama AS-Israel Serang Iran
Pengamat menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sekarang ini tentunya ada dua tujuan.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Pengamat menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sekarang memiliki dua tujuan
- Pertama, untuk mengganti rezim Ayatollah Ali Khamenei dari rezim Islam Iran menjadi rezim yang lain
- Kedua kemudian untuk memaksa pemerintah Iran untuk ke meja perundingan soal senjata nuklir
- Iran sebisa mungkin akan mencoba membalas serangan dan kemungkinan akan balasan-balasan simbolik. Sebab, jika perang besar terbuka, Iran tidak bisa menyaingi Amerika Serikat dan Israel
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kishino Bawono, memberikan analisa terkait perang Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang saat ini terus memanas.
Kishino mengatakan, serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sekarang ini memiliki dua tujuan.
Pertama, untuk mengganti rezim Ayatollah Ali Khamenei dari rezim Islam Iran menjadi rezim yang lain.
"Kedua kemudian untuk memaksa pemerintah Iran untuk ke meja perundingan terkait masalah tuduhan Amerika Serikat dan Israel bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir. Jadi mereka ingin mencegah Iran untuk punya senjata nuklir gitu sih," ujarnya saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).
Baca juga: Konflik Bersenjata Tak Ditanggung Asuransi, Travel Umrah Terimpit Ketidakpastian Penerbangan
Untuk sementara ini, kata Kishino, Iran sebisa mungkin akan mencoba membalas serangan dan kemungkinan akan balasan-balasan simbolik. Sebab, jika perang besar terbuka, Iran tidak bisa menyaingi Amerika Serikat dan Israel.
"Tapi dia harus menunjukkan paling tidak ke publiknya bahwa mereka tidak diam saja ketika diserang. Terkait apakah rezimnya akan kolaps, saya sendiri belum tahu apakah vaksin di dalamnya terpecah untuk kemudian mengganti rezim atau enggak," kata Kishino.
Akibat serangan AS-Israel tersebut, pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan tewas. Dengan kondisi tersebut, kata Kishino, presiden, yudikatif atau kehakiman dan council of guardian harus bertemu untuk menentukan penggantinya.
"Secara konstitusi setelah seorang supreme leader ini meninggal, maka harus ditentukan siapa supreme leader selanjutnya. Nah ini nampaknya saya belum dapat info kapan mereka akan bertemu dan siapa penggantinya," ucapnya.
Kendati demikian, Kishino menilai Iran masih memiliki kelebihan dan cukup kuat jika diserang dari darat, bahkan sulit ditaklukan. Sebab, kontur wilayahnya berupa bukit, gurun, gunung, sehingga AS-Israel tidak akan mudah untuk mengirim pasukan dan logistik.
Baca juga: Konflik Bersenjata Tak Ditanggung Asuransi, Travel Umrah Terimpit Ketidakpastian Penerbangan
Hanya saja, dia menilai Iran tidak akan mudah untuk mendapatkan dukungan penuh dari negara sekutu seperti Cina dan Rusia dalam perang ini, layaknya AS yang langsung didukung oleh Israel ketika mendapat serangan.
"Saya melihatnya Iran ini tidak sepenuhnya didukung secara terbuka. China dan Rusia nampaknya cukup strategis, mereka cukup menjaga jarak. Jika mendukung, pun secara lebih taktis karena ditakutkan ada retaliasi lebih jauh dari Amerika Serikat," kata Kishino.
Terkait penggantian rezim Iran, dia menilai hingga saat ini masih belum bisa dipastikan, apakah akan berubah jadi demokratis atau mempertahankan Republik Islam Iran seperti sekarang. Namun, perang tersebut tentu berdampak terhadap negara lain termasuk Indonesia.
"Untuk dampak politik Indonesia nampaknya enggak ada ya. Tapi untuk Indonesia paling ketakutan kita lebih ke masalah ekonomi. Misalkan, perdagangan internasional terganggu, jalur minyak terganggu, itu yang lebih nampak di depan mata," ujarnya.
Baca juga: Umuh Muchtar Wanti-wanti ke Pemain Jelang Laga Berat Persib Kontra Persebaya
Namun dia memastikan, perang ini tidak ada kaitannya dengan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP). Sebab, hal ini bukan lebih ke urusan Iran, tetapi ke urusan Gaza Palestina atau Tepi Barat secara umum.
"Tujuannya Board of Peace itu membawa perdamaian di Palestina, terutama di Gaza. Nah, Indonesia katanya membela Palestina, pertanyaannya ketika pemerintah Israel melakukan segala bentuk kekerasan termasuk di Tepi Barat, nah Indonesia ngapain, bukan terkait Iran. menurut saya," kata Kishino.
Saat disinggung hal yang bisa menghentikan perang antara Iran vs AS-Israel tersebut, Kishino menilai hanya Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Ini full Donald Trump sebagai pengambil keputusan di Amerika Serikat. Paling kemudian Perdana Menteri Netanyahu di Israel. Bagaimana mereka berdua berdiskusi, bernegosiasi kapan titik akhir dari perang ini," ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ILUSTRASI-IRAN-Monumen-Shahyad-di-Teheran.jpg)