Minggu, 17 Mei 2026

Dugaan Bullying di SMAN 6 Garut Tak Terbukti, Parlemen Remaja Minta Publik Utamakan Tabayyun 

Misteri P (16) seorang siswa SMAN 6 Garut yang mengakhiri hidup diduga mendapatkan perundungan di sekolah akhirnya terungkap.

Tayang:
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Giri
Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
PEMBINA UPACARA - Koordinator Alumni Parlemen Remaja Jabar, Ahmad Ripqi, saat menjadi pembina upacara di SMAN 6 Garut, Kabupaten Garut, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Misteri P (16) seorang siswa SMAN 6 Garut yang mengakhiri hidup diduga mendapatkan perundungan di sekolah akhirnya terungkap.

Hal itu diungkap oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan tim investigasi yang dipimpin langsung oleh Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Barat.

Di hadapan Gubernur, tim investigasi mengungkap fakta mengejutkan. Di antaranya, P nekat mengakhiri hidup bukan karena perundungan di sekolah seperti yang dikatakan orang tuanya di media sosial.

P mengakhiri hidup lantaran didorong oleh beberapa faktor, satu di antaranya psikologis.

"Jadi setelah kita mapping hasil daripada temuan tim dari tim psikolog forensik terus dihimpun semuanya, semuanya mengatakan bahwa tidak terjadi perundungan," ujar Kepala BKD Jabar, Dedi Supandi, saat menggelar rapat bersama Dedi Mulyadi pada 16 Agustus 2025, yang juga dipublikasikan di Chanel YouTube KDM, Kamis (21/8/2025).

Baca juga: Anggota DPRD Jabar Aten Munajat Minta Nama Baik SMAN 6 Garut Dipulihkan

Hasil tersebut disikapi oleh Koordinator Alumni Parlemen Remaja Jabar, Ahmad Ripqi. Dia mengatakan, peristiwa nahas tersebut harus banyak diambil hikmahnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk memeriksa dan mengedepankan literasi secara utuh dalam menyikapi setiap informasi yang beredar.

"Masalah ini saya anggap selesai, mari kita kembali ke aktivitas biasanya. Dari ini kita harus belajar banyak tabayun sebelum bersikap," ujar Ahmad Ripqi kepada Tribunjabar.id, Minggu (24/8/2025).

Baca juga: Terungkap Penyebab Siswa SMAN 6 Garut Nekat Akhiri Hidup, Bukan karena Dibully

Ia menuturkan dalam era digital saat ini, informasi sangat cepat tersebar di media sosial, namun tidak semuanya bisa dipastikan benar atau tidaknya suatu informasi tersebut.

Apalagi kabar nahas itu sebelumnya sempat viral di media sosial hingga sekolah jadi sasaran warga di internet.

"Selesainya kasus ini hendaknya menjadi pelajaran berharga agar masyarakat tidak serta-merta men-judge sekolah sebagai sekolah pem-bully," ungkapnya.

Ahmad mengingatkan pentingnya peran sebuah keluarga dan pembinaan di sekolah dalam menguatkan pendidikan karakter. 

Hal tersebut diharapkan mampu menekan potensi terjadinya kasus serupa di masa mendatang. 

"Dinyatakan selesainya kasus ini tanpa terbukti adanya unsur bullying. Publik diharapkan lebih arif dalam menyikapi informasi serta tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan tanpa landasan yang jelas," ucapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved