Sabtu, 13 Juni 2026

BI Rate Naik dan Dolar Menguat, Pengusaha di Jabar Hadapi Tekanan Berlapis

Saat biaya pinjaman berpotensi meningkat, penguatan dolar Amerika Serikat juga ikut menekan biaya produksi

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
KETUA APINDO JABAR - Ketua Apindo Jabar, Ning Wahyu (tengah). Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat memahami keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate di tengah penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian ekonomi global. 
Ringkasan Berita:
  • Kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen memberikan tekanan berlapis bagi pelaku usaha di Jawa Barat
  • Penguatan dolar Amerika Serikat meningkatkan biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku impor
  • Apindo Jawa Barat menyoroti tantangan ganda antara kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah
  • Pelaku usaha kini lebih fokus menjaga kesehatan bisnis dibandingkan melakukan ekspansi agresif

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaku usaha di Jawa Barat kini menghadapi tekanan berlapis di tengah keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. 

Di saat biaya pinjaman berpotensi meningkat, penguatan dolar Amerika Serikat juga ikut menekan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat, Ning Wahyu, mengatakan kondisi saat ini cukup berat karena pengusaha harus berhadapan dengan dua tantangan besar secara bersamaan.

Baca juga: Ekonomi Tak Pasti, Pengusaha Tunda Investasi dan Rekrutmen Karyawan Baru

“Tekanan yang dirasakan pelaku usaha saat ini cukup signifikan karena menghadapi dua tantangan sekaligus. Di satu sisi biaya pinjaman berpotensi meningkat akibat kenaikan suku bunga, sementara di sisi lain penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku impor, mesin, serta berbagai kewajiban yang menggunakan mata uang dolar,” ujar Ning saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Menurut Ning, dampak yang dirasakan setiap sektor memang berbeda-beda. 

Namun bagi industri manufaktur yang masih banyak menggunakan bahan baku impor, pelemahan rupiah kerap menjadi persoalan yang lebih berat dibandingkan kenaikan bunga.

“Secara umum, bagi industri manufaktur yang masih banyak menggunakan bahan baku impor, pelemahan rupiah sering kali menjadi tekanan yang lebih besar karena secara langsung meningkatkan biaya produksi,” katanya.

Ia menjelaskan, ketika biaya produksi meningkat, perusahaan berada dalam posisi sulit. 

Jika kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga, daya beli masyarakat berpotensi melemah.

“Sementara apabila kenaikan biaya tersebut dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk, maka daya beli masyarakat berpotensi melemah,” ungkapnya.

Di sisi lain, sektor usaha yang mengandalkan pembiayaan dari perbankan juga tidak luput dari tekanan. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya pinjaman dan memengaruhi berbagai rencana bisnis perusahaan.

Baca juga: BI-Rate Naik, Debitur Diminta Bersiap: Cicilan KPR Berpotensi Bertambah

“Bagi sektor usaha yang sangat bergantung pada pembiayaan perbankan, kenaikan suku bunga juga menjadi tantangan yang cukup besar karena meningkatkan biaya pinjaman dan dapat menekan rencana ekspansi usaha,” katanya.

Meski demikian, Ning menilai kenaikan bunga masih lebih mudah diprediksi dibanding fluktuasi nilai tukar.

Namun kenaikan suku bunga relatif masih dapat diprediksi dan dikalkulasikan dalam perencanaan bisnis.

“Tantangan terbesar bagi dunia usaha adalah ketika harus menghadapi kedua kondisi tersebut secara bersamaan, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga,” tegas Ning.

Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan mengambil langkah antisipatif untuk menjaga keberlangsungan usaha. Fokus utama saat ini bukan lagi agresif melakukan ekspansi, melainkan mempertahankan kesehatan bisnis di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved