Jumat, 5 Juni 2026

Rupiah Jebol Rp18.028 per Dolar AS, Sinyal Kekhawatiran Investor Meningkat

Pelemahan rupiah di level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan kekhawatiran yang cukup kuat pasar terhadap ekonomi nasional.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Kemal Setia Permana
Kompas.com
RUPIAH JEBLOK - Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan pasar sedang mengirimka kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi nasional. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga menyentuh level Rp18.028 per dolar AS yang menandakan kekhawatiran pasar.
  • Pengamat ekonomi Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy menilai kondisi ini sebagai krisis kepercayaan.
  • Pelemahan rupiah berkaitan erat dengan koreksi IHSG dan arus modal keluar dari pasar domestik.
  • Meskipun tertekan, kondisi ekonomi saat ini dinilai belum separah krisis moneter tahun 1998.
  • Bank Indonesia melakukan intervensi dan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp18.028 per dolar AS menunjukkan pasar sedang mengirimkan kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Hal itu diungkapkan oleh pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy.

Rizaldi menjRizaldy beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.

Rizaldi menjelaskan beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.

"Kalau rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, menurut saya ini bukan lagi sekadar isu nilai tukar, tetapi sudah menjadi indikator bahwa pasar sedang mengirimkan sinyal kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia," kata Rizaldy, kepada Tribunjabar.id, Kamis (4/6/2026). 

Baca juga: Rupiah Jeblok Tembus Rp18.000, Warga Bandung Serbu Money Changer, Ramai-ramai Jual Dolar

Menurut Rizaldi, beberapa bank asing bahkan dilaporkan telah menawarkan dolar AS di atas Rp18.000 pada perdagangan terbaru.

Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Ketika investor asing melepas aset di pasar saham Indonesia, mereka akan menjual aset berdenominasi rupiah dan beralih membeli dolar AS.

PeleMeski demikian, Rizaldyadi saat ini berkaitan erat dengan koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Akibatnya, tekanan terjadi secara bersamaan terhadap pasar saham dan nilai tukar. IHSG mengalami penurunan, sementara rupiah semakin melemah terhadap dolar AS.

"Kondisi ini diperparah oleh penguatan dolar AS global, kenaikan harga minyak dunia, konflik geopolitik, serta arus modal yang keluar dari negara berkembang," ujarnya.

Meski demikian Rizaldy menilai faktor yang paling penting untuk dicermati bukan hanya berasal dari kondisi eksternal. 

"Pasar saat ini juga tengah menilai tingkat kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah," katanya. 

Ia menyebut transparansi pasar modal, arah kebijakan fiskal, hingga konsistensi regulasi menjadi faktor yang menentukan keputusan investor untuk bertahan atau keluar dari pasar Indonesia.

"Kondisi ini diperpaKrisisleh penguatan dolar AS global, kenaikan harga minyak dunia, konflik geopolitik, serta arus modal yang keluar dari negara berkembang," ujarnya.

"Ketika kepercayaan menurun, investor akan meminta premi risiko yang lebih tinggi atau memilih keluar dari pasar. Itulah sebabnya saya pernah menyampaikan bahwa kondisi saat ini lebih mendekati crisis of confidence daripada krisis ekonomi riil," katanya.

Belum Disamakan Krisi Ekonomi 1998

Meski rupiah tertekan dan IHSG terkoreksi, Rizaldy menegaskan kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi 1998.

Menurutnya, fundamental sektor perbankan Indonesia masih jauh lebih kuat. Selain itu, cadangan devisa masih tersedia dan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar.

"Bank Indonesia telah melakukan intervensi besar serta menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah," ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya efek psikologis yang perlu diwaspadai. Dalam pasar keuangan, kata dia, persepsi investor kerap bergerak lebih cepat dibandingkan data ekonomi yang sesungguhnya.

"Ketika kepanikan muncul, tekanan dapat membesar meskipun fundamental ekonomi belum berubah secara drastis," katanya.

Karena itu, Rizaldy meminta investor tidak mengambil keputusan secara emosional di tengah gejolak pasar. 

Ia menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi aset, menjaga likuiditas, dan tetap disiplin dalam berinvestasi.

Menurutnya, pelemahan rupiah dan koreksi IHSG saat ini tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi, tetapi juga tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia.

"Rupiah yang melemah dan IHSG yang terkoreksi bukan hanya cerminan kondisi ekonomi, tetapi juga cerminan tingkat kepercayaan investor. Dan dalam jangka pendek, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya sama pentingnya dengan rupiah itu sendiri," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved