Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Capai 5,79 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional
Pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan I 2026 mencapai 5,79 persen (yoy), lebih tinggi dari nasional 5,61 persen.
- Secara kuartalan, ekonomi Jabar tumbuh 0,24 persen dibanding triwulan IV 2025.
- Sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekonomi (39,60 persen), disusul perdagangan, pertanian, konstruksi, dan transportasi.
- Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi motor utama (65,22 % ), dengan andil pertumbuhan tertinggi 3,27 persen.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,79 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global.
Secara kuartalan, kata dia, ekonomi Jabar juga masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,24 persen dibanding triwulan IV 2025.
Baca juga: DPRD Jawa Barat Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Berbasis Pemerataan dan Akses Modal
“Kinerja ekonomi Triwulan I-2026 didorong oleh beberapa faktor kunci, di antaranya peningkatan mobilitas masyarakat yang mencapai 56,54 juta perjalanan wisatawan nusantara akibat momen Ramadan dan Idulfitri,” ujar dia, Selasa (5/5/2026).
Dia menjelaskan, secara struktur dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan mendominasi sebesar 39,60 persen, perdagangan sebesar 14,21 persen, pertanian 9,22 persen, konstruksi 8,14 persen, dan transportasi 6,84 persen.
Sumber pertumbuhan atau andil yang tertinggi dari sisi lapangan usaha disumbang oleh sektor industri sebesar 1,65 persen, transportasi sebesar 0,81 persen, infokom sebesar 0,58 persen, akomodasi dan mamin sebesar 0,51 persen, dan perdagangan sebesar 0,45 persen.
Sementara struktur dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga menjadi motor penggerak utama sebesar 65,22 persen, disusul oleh PMTB sebesar 23,92 persen, konsumsi pemerintah sebesar 5,16 persen, net ekspor sebesar 4,96 persen, dan konsumsi LNPRT sebesar 0,69 persen.
Sumber pertumbuhan atau andil tertinggi dari sisi pengeluaran disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 3,27 persen, konsumsi pemeritanh sebesar 1,82 persen, PMTB sebesar 1,06 persen, dan kosumsi LNPRT sebesar 0,04 persen.
Dia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberi efek berantai terhadap aktivitas ekonomi di Jawa Barat.
“Jawa Barat kan jumlahnya besar ya, itu otomatis juga MBG-nya besar dan ini ikut memutar gerak ekonomi di Jawa Barat. Saya kira termasuk dari tenaga kerjanya juga,” ujarnya.
Dampak paling terasa disebut terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.
Sektor ini ikut terdorong karena kebutuhan penyediaan makanan dalam skala besar membutuhkan pasokan dari berbagai sektor lain, terutama pertanian dan distribusi.
Baca juga: Dinamika Ekonomi Jawa Barat di Tengah Pelemahan Ekspor: Sektor Industri Jadi Tulang Punggung
“Dampak MBG itu penyediaan makan minum. Karena dia masuk kategori penyediaan makan minum otomatis share-nya besar, dan makan minum membutuhkan suplai dari pertanian dan lain-lain. Ini akhirnya ketarik semua,” katanya.
Ari, sapaan akrabnya merinci, berdasarkan pulau, kontribusi pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa mendominasi sebesar 57,24 persen dari total nasional, diikuti Pulau Sumatera sebesar 22,07 persen, Pulau Kalimantan sebesar 7,99 persen, Pulau Sulawesi sebesar 7,12 persen, Pulau Bali & Nusa Tenggara sebesar 2,80 persen, dan Pulau Maluku & Papua sebesar 2,77 persen.
Dia menambahkan, di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi secara (year-on-year) tertinggi terjadi di Jawa Timur sebesar 5,96 persen, diikuti Jawa Tengah sebesar 5,89 persen, DI Yogyakarta sebesar 5,84 persen, Jawa Barat sebesar 5,79 persen, DKI Jakarta sebesar 5,59 persen, dan Banten sebesar 5,64 persen. (*)
pertumbuhan ekonomi
Jawa Barat
Badan Pusat Statistik
Margaretha Ari Anggorowati
Ekonomi Daerah
wisatawan
rumah tangga
| 6 Aturan Perpisahan Sekolah di Jawa Barat, Tak Boleh Ada Pungutan ke Siswa |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Gaji Guru Honorer Jabar Cair 2 Bulan, Disdik Janji Bulan Depan Kembali Normal |
|
|---|
| Pemprov Jabar Tata PKL Jembatan Cirahong Jadi Wisata Unggulan, Siapkan MOU dengan PT KAI |
|
|---|
| Respons Dedi Mulyadi soal Meluapnya Sungai Cipamingkis Bogor, Sorot Perubahan Tata Ruang |
|
|---|
| Jabar Bebas Kabel Semrawut 2029, Dedi Mulyadi Targetkan Sistem Bawah Tanah Dimulai dari Gedung Sate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Penjualan-oleh-oleh-haji-dan-umrah-di-Pasar-Baru-Kota-Bandung-meningkat-tajam.jpg)