IHSG Menguat di Sesi I, Sentimen Global dan Tekanan Rupiah Masih Membayangi
Tekanan terhadap ekonomi domestik diperparah oleh pelemahan rupiah, pelebaran defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- IHSG ditutup menguat ke level 7.149,91 pada sesi pertama meskipun dibayangi aksi jual investor asing dan sentimen negatif global.
- Tekanan terhadap ekonomi domestik diperparah oleh pelemahan rupiah, pelebaran defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak, serta penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.
- Pelaku pasar kini cenderung berhati-hati dan mulai melirik aset safe haven seperti dolar AS dan emas di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan sesi pertama, ke level 7.149,91 saat jeda istirahat siang pada Rabu (1/4/2026).
Posisi ini naik dibandingkan penutupan sebelumnya di level 7.048,22.
Raymond Iriantho, Financial and Investment sekaligus Content Creator, menilai tekanan IHSG masih datang dari aksi jual investor asing yang terus berlanjut.
Dia mengatakan, sentimen negatif global masih lebih dominan sehingga investor cenderung menunggu dan melihat perkembangan pasar.
“Investor asing masih net sell dan sentimen negatif masih mendominasi, sehingga banyak pelaku pasar memilih wait and see,” ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Rabu (1/4/2026).
Ia juga menyoroti pergerakan rupiah yang turut tertekan.
"Untuk rupiah sendiri, selain faktor geopolitik menurut saya ada andil dari outlook fiskal indonesia, dimana defisit diperkirakan bisa terus melebar diatas 3 persen mengingat lonjakan harga minyak karena perang di Timur Tengah," jelasnya.
Perubahan outlook Indonesia menjadi negatif juga dinilai menambah kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
"Sebagaimana kita tahu, sebelumnya pun outlook Indonesia di downgrade oleh Moodys dan Fitch menjadi negatif," kata dia.
Di tengah ketidakpastian tersebut, emas yang dikenal sebagai aset safe haven juga mengalami koreksi.
"Status emas sebagai safe haven masih tetap, namun koreksi cukup dalam belakangan ini menjadi bukti kalau semua berita negatif telah priced in di emas, dan ada kecenderungan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi sehingga banyak sell-off atau penjualan di emas," tuturnya.
Sementara itu, Reza Priyambada, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, mengatakan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik antara AS-Israel dan Iran serta dampaknya terhadap ekonomi global.
Menurutnya, ketegangan juga berdampak pada jalur distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz yang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas dan memicu inflasi global.
“IHSG dan Rupiah pun tentunya ikut terimbas negatif dengan kondisi ini. Apalagi di dalam negeri yang dapat mengakibatkan kenaikan harga BBM dan berujung pada lonjakan inflasi sehingga pelaku pasar pun cenderung menjauhi pasar untuk sementara waktu," katanya.
| Pemerintah Pastikan Harga BBM Tak Naik, Pakar Ekonomi Acuviarta Kartabi Sarankan Realokasi Anggaran |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Naik Per 1 April, Pengamat Unpar Ingatkan Efek Berantai Ongkos Logistik |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.002, IHSG Ikut Loto, Pengamat: Pasar Butuh Bukti Nyata Pemerintah |
|
|---|
| Datang ke Bandung, Menkop Ferry Juliantono Sebut Ribuan Koperasi Segera Beroperasi |
|
|---|
| Asal Usul Fenomena Penyapu Koin di Subang dan Indramayu, dari Tradisi Jadi Faktor Ekonomi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-ihsg-ilustrasi-indeks-harga-saham.jpg)