Jumat, 10 April 2026

Harga Plastik Melejit Bikin Pedagang Es di Cirebon Menjerit, Omzet Terjepit

Kenaikan harga plastik, mulai dari kantong kresek hingga kemasan minuman, membuat para pedagang berada dalam posisi serba sulit.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Cirebon/Eki Yulianto
PEDAGANG ES - Aeni, Pedagang es di Kota Cirebon menjerit dengan kondisi harga plastik terus melejit gila-gilaan akibat konflik global belakangan ini 

Ringkasan Berita:
  • Harga plastik di Cirebon, termasuk kantong kresek dan kemasan minuman, naik lebih dari 100 persen.
  • Pedagang es seperti Aeni (60) terpaksa menaikkan harga Rp1.000 per bungkus, namun ditolak pembeli.
  • Omzet pedagang turun drastis, dari Rp250–300 ribu per hari menjadi sulit mencapai Rp100 ribu.
  • Konsumen kaget dengan kenaikan harga, karena biasanya membeli es Rp5.000 tanpa memperhitungkan biaya bahan baku.

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Harga plastik yang terus melejit gila-gilaan membuat pedagang kaki lima, khususnya pedagang es di Kota Cirebon, menjerit. 

Tak hanya biaya produksi yang membengkak, para pedagang juga harus menghadapi keluhan pembeli saat harga jual dinaikkan, hingga akhirnya memilih bertahan di harga normal meski omzet anjlok drastis.

Kondisi ini terlihat di kawasan Pasar Pagi, Kota Cirebon, Minggu (5/4/2026).

Baca juga: Harga Plastik Naik, Pengamat Soroti Ketergantungan Impor dan Peluang Industri Ramah Lingkungan

Kenaikan harga plastik, mulai dari kantong kresek hingga kemasan minuman, membuat para pedagang berada dalam posisi serba sulit.

Di satu sisi, mereka harus menyesuaikan harga jual untuk menutup biaya produksi.

Namun di sisi lain, pembeli kerap menolak kenaikan harga tersebut.

Salah satu pedagang es, Aeni (60), mengaku sempat menaikkan harga jual es sebesar Rp 1.000 per bungkus.

Namun, langkah itu justru menuai protes dari pembeli.

“Ini kan naik semua, sedotan naik, plastik naik,” ujar Aeni, saat ditemui di lokasi, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku sudah terjadi sejak sebelum bulan puasa.

Dampaknya sangat terasa pada pendapatan harian.

“Omzetnya dulu bisa Rp 300 ribu sampai Rp 250 ribu. Sekarang nyari uang Rp100 ribu saja susah,” ucapnya.

Aeni menyebut, kondisi saat ini jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

Bahkan dalam sehari, ia kerap kesulitan mendapatkan pembeli.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved