Tradisi Siraman Panjang di Cirebon, Piring Sunan Gunung Jati Hingga Guci Dicuci dengan Salawat

Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi tahunan Siraman Panjang, Sabtu (30/8/2025).

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Kemal Setia Permana
Tribun Jabar/Eki Yulianto
TRADISI SIRAMAN - Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi tahunan Siraman Panjang, sebuah ritual sakral mencuci benda pusaka peninggalan Wali Sanga, Sabtu (30/8/2025). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi tahunan Siraman Panjang, sebuah ritual sakral mencuci benda pusaka peninggalan Wali Sanga, Sabtu (30/8/2025).

Berlokasi di Bangsal Pungkuran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, prosesi diawali dengan keluarnya sejumlah benda pusaka, mulai dari piring besar, piring pengiring, guci hingga wadah minyak wangi. 

Para abdi dalem yang berpakaian serba putih membawanya dengan khidmat, lalu meletakkannya di atas meja untuk terlebih dahulu dilantunkan selawat.

Setelah itu, prosesi inti pun berlangsung.

Baca juga: UPDATE Sisa Kericuhan di Gedung DPRD Jabar, Puing Motor Hingga Mobil Masih Tergeletak

Dengan penuh kehati-hatian, para abdi dalem membasuh setiap benda pusaka di sebuah bak berisi air sambil terus melantunkan selawat.

Proses pencucian dipimpin langsung oleh Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Gumelar Suryadiningrat bersama sejumlah abdi dalem lainnya.

“Alhamdulillah, tadi kami dari keluarga besar Kesultanan Kasepuhan Cirebon melaksanakan tradisi siraman panjang."

"Kegiatan ini merupakan rangkaian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Gumelar, Sabtu (29/8/2025). 

Ia menjelaskan benda pusaka yang dimandikan antara lain tujuh piring besar, 38 piring pengiring, dua guci, hingga wadah mawar dan minyak wangi. 

Semua pusaka itu merupakan peninggalan Gusti Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang nantinya akan diarak pada puncak perayaan Maulid Nabi atau Panjang Jimat pada 5 September 2025 mendatang.

Intinya siraman panjang ini adalah jamasan, yaitu mencuci peninggalan Sunan Gunung Jati.

Baca juga: Mauro Zijlstra Resmi WNI, Timnas Indonesia Bakal Lebih Gacor di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026

"Tadi pusaka itu kami keluarkan dari kamar pusaka menuju ruangan Pungkuran untuk dimandikan dengan air yang sudah disiapkan,” ucapnya.

Tradisi Siraman Panjang tidak hanya menjadi ritual keraton, tetapi juga magnet bagi masyarakat.

Usai prosesi, warga tampak berebut mendapatkan air bekas cucian pusaka yang diyakini membawa keberkahan.

“Antusiasme masyarakat untuk mendapatkan air ini sangat tinggi, karena mereka percaya akan mendapatkan keberkahan dan syafaat dari Nabi Muhammad SAW,” jelas dia.

Tradisi sakral ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan budaya dan religi masyarakat Cirebon, yang setiap tahun selalu dinanti menjelang puncak Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan. (*)

 

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved