Kamis, 7 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.000, Pemilik KPR Komersial Cemas Hadapi Kenaikan Cicilan

Melemahnya rupiah ini mulai dirasakan was-was oleh masyarakat, terutama pemilik kredit pemilikan rumah (KPR)

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Dok Pinhome
ILUSTRASI - Nilai tukar rupiah tembus Rp17.354 pada Rabu (6/5/2026). Melemahnya rupiah ini mulai dirasakan was-was oleh masyarakat, terutama pemilik kredit pemilikan rumah (KPR) komersial dengan skema bunga mengambang (floating). 
Ringkasan Berita:
  • Melemahnya rupiah ini mulai dirasakan was-was oleh masyarakat, terutama pemilik kredit pemilikan rumah (KPR) komersial dengan skema bunga mengambang (floating)
  • Nasabah berharap ada kepastian dan stabilitas dalam pembayaran cicilan ke depan, di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nilai tukar rupiah tembus Rp17.354 pada Rabu (6/5/2026). Melemahnya rupiah ini mulai dirasakan was-was oleh masyarakat, terutama pemilik kredit pemilikan rumah (KPR) komersial dengan skema bunga mengambang (floating).

Salah satunya dialami Putra, warga Bandung, yang telah mencicil rumah sejak 2022.

Putra mengambil KPR komersial pada 2022 dengan harga rumah sekitar Rp399,9 juta.

Saat itu, ia membayar uang muka sekitar Rp70 juta dan mendapatkan promo dari bank berupa cicilan ringan di awal masa kredit.

“Awalnya cicilan sekitar Rp2,1 juta selama tiga tahun pertama. Tapi masuk tahun keempat mulai naik,” kata Putra, kepada TribunJabar.id, Rabu (6/5/3026).

Kenaikan cicilan tidak terjadi sekaligus, melainkan bertahap.

“Pada tahun pertama setelah masa promo berakhir, cicilan naik sekitar Rp500 ribu, setahun berikutnya kembali naik Rp500 ribu, sehingga saat ini total cicilan yang harus dibayar sekitar Rp3,1 juta per bulan,” jelasnya.

Menurut Putra, ia memilih KPR komersial karena keterbatasan pilihan rumah subsidi di wilayah Bandung.

Rumah subsidi, kata dia, umumnya berada di lokasi yang jauh dari pusat kota.

“Kalau yang subsidi sudah tidak ada di sekitar Kota Bandung. Adanya di kabupaten, jauh dan aksesnya sulit buat yang kerja di kota,” ujarnya.

Selama hampir lima tahun mencicil, Putra mengaku kerap diliputi rasa khawatir.

Ia menilai kenaikan cicilan tidak selalu disertai pemberitahuan yang jelas dan cenderung berubah-ubah.

“Kadang naiknya tiba-tiba. Tidak selalu jelas perhitungannya,” ucapnya.

Dia menuturkan, kondisi ekonomi global yang bergejolak turut memperbesar kekhawatiran tersebut.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS dinilai berdampak pada suku bunga kredit, yang kemudian berimbas pada cicilan KPR dengan skema floating.

“Sekarang lebih cemas, karena nilai tukar rupiah juga lagi tinggi. Jadi makin terasa tekanannya,” kata dia.

Sebagai langkah antisipasi, Putra berencana memindahkan kreditnya ke bank syariah yang menawarkan cicilan tetap (fixed).

“Rencananya mau take over ke bank syariah supaya cicilannya flat. Memang langsung dihitung tinggi di awal, tapi setidaknya jelas dan tidak berubah-ubah,” ujarnya.

Putra berharap ada kepastian dan stabilitas dalam pembayaran cicilan ke depan, di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved