Jumat, 15 Mei 2026

Menakar Potensi "Emas Hijau" dari Kawah Gunung Berapi, Solusi ITB untuk Krisis Iklim

Alfredo optimistis bahwa Indonesia tidak perlu bergantung pada teknologi impor untuk mitigasi iklim.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Napisah
ALFREDO - Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D., peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, dalam orasi ilmiahnya bertajuk "Dari Laut hingga Kawah Gunung Berapi: Mikroalga Indonesia untuk Penangkapan CO₂ dan Mitigasi Perubahan Iklim" di Sasana Budaya Ganesha, Jumat (30/1/2026). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di balik kepulan asap belerang kawah gunung berapi di Jawa Barat, tersimpan potensi besar untuk menyelamatkan bumi. 

Hal tersebut disampailan oleh Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D., peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, dalam orasi ilmiahnya bertajuk "Dari Laut hingga Kawah Gunung Berapi: Mikroalga Indonesia untuk Penangkapan CO₂ dan Mitigasi Perubahan Iklim" di Sasana Budaya Ganesha, Jumat (30/1/2026). 

Dia menjelaskan bahwa mikroalga lokal yang hidup di lingkungan ekstrem memiliki kemampuan luar biasa dalam menangkap karbon dioksida (CO₂).

Dikatakannya, hasil eksplorasi timnya di sejumlah lokasi, mulai dari Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, hingga Kawah Domas di Tangkuban Parahu.

Dari eksplorasi tersebut, mereka berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi secara molekuler mikroalga merah bernama Galdieria sulphuraria. 

Diketahui, organisme mikroskopis ini memiliki ketahanan luar biasa, mampu hidup di lingkungan dengan tingkat keasaman pH 0,8 atau setara dengan air aki.

Menurut Alfredo, keunggulan utama mikroalga dibandingkan tumbuhan darat terletak pada efisiensi waktu dan lahan. 

Jika hutan membutuhkan waktu tahunan untuk tumbuh dan menyerap karbon secara optimal, mikroalga menawarkan kecepatan yang drastis.

"Kalau pohon kan kita harus tumbuhkan bertahun-tahun, sampai dia besar, ada daun-daunnya dulu baru bisa fotosintesis optimal. Kalau mikroalga, dalam hitungan satu sampai dua hari kita bisa tumbuhkan dia. Kita tidak butuh lahan yang luas," ujar Alfredo.

Ia menambahkan bahwa jika mikroalga ditumbuhkan dalam tangki besar dengan jumlah sel yang sama, kapasitas penyerapan CO₂-nya bisa dihitung setara dengan jumlah pohon tertentu. 

Hal ini menjadikan mikroalga solusi cepat dan alternatif di tengah isu iklim yang kian mendesak.

Riset ini tidak hanya berhenti pada penangkapan karbon. Alfredo menekankan konsep ekonomi sirkular, di mana CO₂ yang ditangkap diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi. 

Mikroalga Galdieria ini memiliki kemampuan unik: selain menyerap karbon anorganik (CO₂), ia juga mampu memakan limbah organik.

"Data penelitian terbaru menunjukkan dia menangkap CO₂ bisa jadi lebih optimal kalau ada sumber karbon organik. Jadi yang satu jalan, yang satu lagi membuat prosesnya lebih optimal," jelasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved