Rabu, 10 Juni 2026

Menag Luncurkan Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah, Kurikulum Berbasis Cinta

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar resmi meluncurkan gerakan "Satu Pengawas Satu Madrasah Pendampingan Kurikulum Berbasis Cinta"

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Napisah
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dalam acara Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 Hijriah dengan tema Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta di Masjid Raya Al Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026).  

Ringkasan Berita:
  • Menteri Agama RI Nasaruddin Umar resmi meluncurkan gerakan "Satu Pengawas Satu Madrasah Pendampingan Kurikulum Berbasis Cinta" di Hotel Ibis Trans Studio Bandung, Selasa (9/6/2026) malam. 
  • Program tersebut ditargetkan mempercepat penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di ribuan madrasah melalui pendampingan langsung oleh para pengawas madrasah

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar resmi meluncurkan gerakan "Satu Pengawas Satu Madrasah Pendampingan Kurikulum Berbasis Cinta" di Hotel Ibis Trans Studio Bandung, Selasa (9/6/2026) malam. 

Program tersebut ditargetkan mempercepat penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di ribuan madrasah melalui pendampingan langsung oleh para pengawas madrasah. 

Peluncuran program dilakukan bersamaan dengan pembukaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) IV dan Musyawarah Nasional (Munas) III Pengawas Madrasah Nasional. 

Nasaruddin mengatakan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep pendidikan yang mengajarkan hubungan antarmanusia. 

Menurutnya, kurikulum tersebut merupakan pengembangan dari gagasan eko-teologi yang selama ini didorong Kementerian Agama.

"Sebetulnya kurikulum berbasis cinta ini adalah proses lanjutan daripada apa yang kami istilahkan dengan ekoteologi. Jadi tidak bisa kita menerjemahkan kurikulum berbasis cinta tanpa memahami filosofi dasarnya, yaitu eko-teologi," kata Nasaruddin.

Ia menjelaskan, konsep tersebut menempatkan hubungan manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan.

Menurut Nasaruddin, pendidikan selama ini cenderung menempatkan alam sebagai objek pembelajaran semata. 

Padahal, kata dia, peserta didik perlu diajak untuk membangun rasa cinta terhadap lingkungan dan memahami keteraturan alam sebagai bagian dari nilai-nilai spiritual.

"Kita mengajak murid kita untuk mencintai alam semesta. Alam ini sangat teratur, sangat simetris. Dari situ akan tumbuh rasa cinta," ujarnya.

Nasaruddin juga mengaitkan konsep tersebut dengan berbagai persoalan yang masih ditemukan di lingkungan pendidikan.

Ia berharap penerapan KBC dapat memperkuat budaya damai di madrasah dan pesantren.

Nasaruddin mengklaim sejumlah indikator positif mulai terlihat sejak kurikulum tersebut diperkenalkan, di antaranya minimnya kasus tawuran dan narkoba di lingkungan madrasah.

"Kita berharap nanti zero bullying, zero kekerasan, zero kekerasan seksual. Kekerasan fisik senior kepada junior, guru kepada murid, itu harus kita eliminasi," katanya.

Melalui program yang baru diluncurkan tersebut, sebanyak 4.700 pengawas madrasah akan mendampingi satu madrasah percontohan dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved