Sekolah Santo Aloysius Perkuat Gerakan Hari Bumi, Lantik Duta ONE
Sekolah Santo Aloysius Bandung memperingati Hari Bumi 2026 dengan pendekatan yang tidak berhenti pada seremonial
Ringkasan Berita:
- Sekolah Santo Aloysius Bandung memperingati Hari Bumi 2026 lewat Aloysius Earth Week, mengajak siswa dan pendidik membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan.
- Kegiatan mencakup refleksi, pelantikan ONE Kids/Youth, serta aksi nyata seperti pengolahan sampah, daur ulang, dan pemanfaatan eco enzyme.
- Peringatan ditutup deklarasi dan teatrikal, menegaskan komitmen membangun budaya peduli lingkungan dari kebiasaan kecil.
TRIBUNJABAR.ID - Bandung, 22 April 2026 — Sekolah Santo Aloysius Bandung memperingati Hari Bumi 2026 dengan pendekatan yang tidak berhenti pada seremonial, melainkan sebagai bagian dari gerakan berkelanjutan dalam membangun kesadaran dan kepedulian lingkungan di kalangan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
Melalui rangkaian Aloysius Earth Week yang berlangsung sejak 9 April hingga puncak acara pada 20 April, 21 April dan 24 April 2026 di lokasi yang berbeda, seluruh civitas akademika diajak menjalani proses bersama dari memahami, merasakan, hingga bertindak dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.
Puncak peringatan Hari Bumi dirancang tidak hanya sebagai acara simbolik, tetapi sebagai pengalaman yang membentuk kesadaran. Kegiatan diawali dengan doa, refleksi, dan meditasi, yang dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Hari Bumi serta olahraga kesadaran yang melibatkan seluruh peserta didik dan pendidik. Rangkaian ini menjadi ruang untuk membangun relasi yang lebih dalam antara manusia dan lingkungan sebelum masuk pada aksi nyata.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pelantikan peserta didik sebagai Aloysian ONE Kids dan Aloysian ONE Youth. Para peserta didik yang dilantik diharapkan tidak hanya menjadi peserta program, tetapi menjadi teladan yang menghidupkan nilai kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Yayasan Mardiwijana Bandung – Dr. Ir. Sherly Iliana, M.M., menegaskan bahwa pendidikan lingkungan perlu melampaui pengetahuan dan menyentuh pembentukan karakter.
“Kami percaya, perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan sadar dan setia, di situlah karakter terbentuk. Pendidikan harus membawa setiap individu dari menyadari, memahami, menjadi peduli, hingga berani bertindak.”
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini menekankan keterpaduan antara kesadaran, kepedulian, dan tindakan. Setiap individu diajak untuk tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga merasakannya dan mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari, sehingga kepedulian terhadap bumi tumbuh sebagai kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan.
Selain pelantikan, peserta didik juga terlibat dalam berbagai aksi nyata, seperti pengolahan sampah organik melalui Organic NANO Enzyme (ONE), pemilahan dan audit sampah, daur ulang plastik, serta kegiatan penyemprotan, penuangan, dan pemanfaatan ONE untuk lingkungan sekitar. Mereka juga mengembangkan berbagai produk turunan sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang berkelanjutan.
Semangat yang tumbuh dari rangkaian kegiatan tersebut kemudian diwujudkan dalam Deklarasi Hari Bumi sebagai komitmen bersama seluruh warga sekolah. Menjelang penutup, suasana reflektif diperdalam melalui teatrikal hari bumi yang dibawakan oleh peserta didik. Melalui ekspresi seni, teatrikal ini menggambarkan relasi manusia dengan bumi—tentang kerusakan yang terjadi, kesadaran yang tumbuh, hingga harapan akan perubahan yang dimulai dari tindakan sederhana. Momen ini menjadi ruang perenungan bersama, yang menguatkan pesan bahwa bumi tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi untuk dijaga dan dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Melalui rangkaian ini, Sekolah Santo Aloysius menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi bukanlah kegiatan sesaat, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam membangun budaya peduli lingkungan. Pelantikan Duta ONE menjadi salah satu bentuk penguatan agar semangat tersebut terus hidup dan berkembang di tengah komunitas sekolah.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh para peserta didik diharapkan tidak berhenti pada kelompok yang dilantik, tetapi mengalir dan menginspirasi seluruh warga sekolah. Karena merawat bumi bukan tugas sebagian orang, melainkan gerakan bersama yang bertumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan.
| Atap Sekolah Ambruk di Majalengka, Meja Kursi Siswa SD Mirat III Tertimbun Puing, Begini Kondisinya |
|
|---|
| Ancam Cabut RMP dan Copot Kepsek, Wali Kota Bandung Farhan: Tak Boleh Tahan Ijazah |
|
|---|
| 10 Ribu Anak di Sumedang Tak Sekolah, Faktor Ekonomi sampai Perundungan Jadi Pemicu |
|
|---|
| Nasib 200 Ribu Guru Honorer Terancam! Larangan Mengajar Mulai 2027 Jadi Pedang Bermata Dua |
|
|---|
| Tugas Guru Honorer hanya Sampai 31 Desember 2026, Yudi: Siswa Tak Bisa Menunggu Hasil Seleksi ASN |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/1Alsius.jpg)