IATL ITB Membangun Kelembagaan Lokal untuk Atasi Persoalan Sampah di Kota Bandung

IATL-ITB menjalankan proyek penguatan kelembagaan pengelolaan sampah di Kota Bandung

putri puspita n
Kegiatan Hasil Riset dan Uji Terap Skema Kelembagaan Dalam Pengurangan Food Waste di Kota Bandung 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Krisis sampah Kota Bandung mencapai titik genting sejak kebakaran besar melanda TPA Sarimukti tahun lalu. 

Sebanyak 1.594 ton sampah dihasilkan setiap hari, dan hampir 80 persen langsung dikirim ke TPA (Aliansi Zero Waste Indonesia, 2023). 

Kota ini dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya.

Namun di tengah situasi genting itu, muncul sebuah upaya sistemik dari masyarakat sipil dan akademisi. 

Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB (IATL-ITB) bersama Article 33 Indonesia, dengan dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) melalui program Urban Futures, menjalankan proyek penguatan kelembagaan pengelolaan sampah berbasis komunitas: Pengelola Sampah Tingkat Kawasan (PSTK).

Tenaga Ahli IATL ITB, Ria Ismaria,M.T. mengatakan proyek ini dimulai pada pertengahan 2024 dengan pelaksanaan studi kelembagaan untuk menjawab satu pertanyaan penting, mengapa upaya pengelolaan sampah di level rumah tangga dan kawasan gagal menjadi sistem yang konsisten. 

“Jawabannya mengerucut pada satu hal, yaitu tidak adanya operator kelembagaan resmi di tingkat kelurahan yang mampu mengelola layanan secara profesional dan terintegrasi, dari edukasi warga, pengumpulan terpilah, hingga pengolahan sampah,” kata Ria mengenai pengelolaan sampah di Bandung di Hotel Amarossa, Jalan Aceh No 71 A, Kota Bandung, Rabu (27/8/2025).

Ria memaparkan hasil riset menunjukkan perlunya regulasi biaya layanan, sistem pemantauan digital, serta penguatan SDM dan fasilitas pengolahan sampah dari sumber. 

Temuan ini tidak berhenti di atas kertas, proyek ini melangkah ke uji coba nyata di dua kelurahan yaitu Panjunan dan Nyengseret. 

Melalui rangkaian pelatihan dan program mentorship selama awal 2025, dibentuklah tim PSTK di masing-masing wilayah. 

Mereka berasal dari unsur karang taruna, tokoh masyarakat, dan kader lingkungan yang memiliki satu tujuan: mengelola sampah dari kawasan secara mandiri dan berkelanjutan.

Di Kelurahan Nyengseret, berawal pada Juni 2023, sampah organik  diolah 40 kilogram per hari. Sementara saat ini sudah 500 kilogram per hari.

Sementara di Panjunan, pengolahan sampah makanan yang dimiliki tim PSTK menggunakan maggot dan loseda pada 2 Juli 2025  jumlah fresh maggot 30 kilogram dan 4 loseda, sedangkan pada awal Agustus jumlah fresh maggot bertambah  menjadi 67-80kilogram sehingga peningkatan keterolahan signifikan.

Program Manager BSID, Ir. Nur Almira Rahardyan, S.T. M.T. mengatakan  PSTK tidak hanya bekerja di balik layar, mereka menjadi wajah baru perubahan lingkungan di kampungnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved