Jumat, 1 Mei 2026

Sempat Tergoncang Usai Kebijakan CBP AS, Ini Prediksi Harga Emas Hingga Akhir Tahun

Pakar Ekonomi ini mempediksi harga emas hingga akhir tahun disela isu goncangan

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Canva
ILUSTRASI BELI EMAS -Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai harga emas global masih memiliki potensi menguat hingga akhir tahun, meskipun gejolak pasar sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa emas tidak akan dikenai tarif. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai harga emas global masih memiliki potensi menguat hingga akhir tahun, meskipun gejolak pasar sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa emas tidak akan dikenai tarif.

Menurut Rizaldy, pasar emas sempat terguncang pekan lalu setelah Customs and Border Protection (CBP) AS memberi sinyal bahwa batangan emas standar berukuran 1 kilogram dan 100 ons mungkin masuk dalam daftar tarif. 

Isu ini, menurutnya, memicu lonjakan harga hingga rekor sekitar US$ 3.534 per ons. 

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Rabu 13 Agustus 2025 Turun Lagi, Antam Jadi Rp1.992 Juta, Cek Galeri 24 dan UBS

Namun, pada 11 Agustus 2025, Trump mengklarifikasi melalui media sosial bahwa emas tidak termasuk objek tarif. 

Pasar pun merespons dengan penurunan moderat: kontrak berjangka (futures) turun sekitar 2,4 persen dan harga spot terkoreksi 1,2%.

“Penurunan itu sifatnya reaksi jangka pendek. Fundamental pasar emas masih sangat kuat,” ujar Rizaldy, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Selasa (12/8/2025). 

Ia mengacu pada proyeksi sejumlah lembaga keuangan global. Goldman Sachs, misalnya, memperkirakan harga emas bisa menembus US$ 3.700 per ons pada akhir tahun. 

"Bahkan ada prediksi ekstrem yang menempatkan harga di kisaran US$ 4.000 per ons," imbuhnya. 

Dia membeberkan, menurut Aakash Doshi dari State Street Global Advisors memberi estimasi harga menuju US$ 3.400 per ons dengan probabilitas 40%, dan berpotensi melonjak ke US$ 4.000–5.000 jika terjadi kombinasi stagflasi dan de-dolarisasi yang makin kuat.

Baca juga: Pegadaian Catat Kelolaan Emas 22,7 Ton hingga Awal Agustus 2025

Rizaldy menambahkan, pembelian emas oleh bank sentral, terutama Bank Sentral China yang sudah sembilan bulan berturut-turut menambah cadangannya, menjadi faktor pendukung signifikan. 

“Ini sinyal permintaan jangka panjang yang solid, sekaligus penopang stabilitas harga,” jelasnya.

Selain itu, kondisi makroekonomi global seperti defisit fiskal AS yang membengkak, ketidakpastian kebijakan moneter, dan ketegangan geopolitik mendorong investor untuk mengalihkan asetnya ke safe haven seperti emas

Dari sisi teknikal, pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi AS dan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September, yang jika terealisasi akan memperkuat permintaan logam mulia ini.

“Dengan semua faktor tersebut, target realistis harga emas berada di kisaran US$ 3.500–3.800 per ons hingga akhir tahun. Potensi menembus US$ 4.000 tetap terbuka jika kondisi ekonomi global makin tertekan,” kata Rizaldy.

Ia menegaskan, meski isu tarif telah mereda, momentum kenaikan harga emas belum habis. 

“Faktor pendorongnya sudah jelas: ketidakpastian ekonomi, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, serta ekspektasi suku bunga rendah. Semua itu memberi pijakan yang kokoh bagi harga emas untuk tetap menguat,” katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved