Angka Stunting di Kota Bandung Masih Tinggi, Dinas Kesehatan Sasar Calon Pengantin
Kasus stunting di Kota Bandung mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan karena kasusnya hingga saat ini masih cukup tinggi.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Kemal Setia Permana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus stunting di Kota Bandung mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan karena kasusnya hingga saat ini masih cukup tinggi, terutama di wilayah Kecamatan Kiaracondong.
Berdasarkan Open Data Kota Bandung, hingga Maret 2025, Kecamatan Kiaracondong menjadi yang terbanyak dengan jumlah 4.972 balita. Dari jumlah tersebut, 3.667 balita telah diperiksa dan hasilnya 690 balita mengalami stunting.
Plt Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan pihaknya menyoroti pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang harus mendapat perhatian.
"Kalau di masa ini (HPK), anak tidak dapat gizi cukup, tidak diberi ASI eksklusif, atau sering sakit, dampaknya bisa panjang," ujar Dewi, Minggu (10/8/2025).
Dampak tersebut, kata dia, di antaranya tumbuh anak akan lebih pendek, lambat berpikir, bahkan kesulitan belajar di kemudian hari. Sehingga, kondisi itu harus diperhatikan melalui pencegahan.
Baca juga: Persib Bandung vs Manila Digger, Berikut Jadwal dan Harga Tiket Pertandingan
"Kalau ada balita yang berat badannya tidak naik, langsung kita intervensi dengan perbaikan gizi. Prinsipnya, kita tidak menunggu sampai terlambat," katanya.
Dinas Kesehatan Kota Bandung, mencatat pada tahun 2018, prevalensi stunting masih berada di angka 26,21 persen, bahkan sempat meningkat menjadi 28,12 persen pada tahun 2019/2020. Namun sejak saat itu tren terus bergerak menurun, menjadi 26,4 persen di tahun 2021.
Sementara angka prevalensi stunting di Kota Bandung pada tahun 2024 tercatat berada di angka 12,4 persen. Capaian pada tahun tersebut berhasil melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 14 persen.
Atas hal itu Dinas Kesehatan Kota Bandung memberikan perhatian khusus lewat edukasi ibu hamil, pemberian suplemen, imunisasi lengkap, dan pemantauan tumbuh kembang balita agar mendapatkan fondasi kesehatan yang kuat sejak awal.
Baca juga: No 7 Operasi Paling Kelam, Ini Sejarah Kopassus dan Rangkaian Misi Penting Sejak 1952
"Tetapi mencegah stunting itu bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi tugas kita semua. Karena masa depan anak-anak adalah masa depan kita bersama," ucap Dewi.
Dewi mengatakan, stunting biasanya disebabkan oleh kurangnya gizi, baik saat ibu hamil maupun setelah anak lahir. Sebab, banyak ibu yang belum memahami pentingnya protein hewani, sayuran, dan vitamin selama masa kehamilan.
Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif enam bulan pertama juga dinilai lebih rentan terkena stunting karena makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang kurang tepat, serta lingkungan yang tidak bersih bisa memperburuk kondisi karena gizi tak terserap maksimal.
"Infeksi berulang seperti diare, ISPA, atau TBC sering terjadi di daerah padat penduduk. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan perilaku hidup bersih sehat itu sama pentingnya dengan pemberian gizi," ujarnya.
Dia mengatakan, tenaga kesehatan memegang peran penting dalam pendampingan ibu hamil melalui pemeriksaan rutin, pemberian tablet tambah darah, vitamin, dan memastikan persalinan aman.
| Persib Catat Rekor Baru 15 Laga Tak Terkalahkan, Salip Catatan Persebaya Sebelumnya |
|
|---|
| Mentalitas Federico Barba: Deja Vu Gol saat Persib 10 Pemain, Bek Paling Produktif di Liga |
|
|---|
| Kemenangan Persib Bandung Dibayar Mahal, Sosok Penting Absen Lawan Dewa United, Siapa Penggantinya? |
|
|---|
| Daftar 11 Lagu Indonesian Idol 2026 Babak Spekta 9 Top 7 Malam Ini, "Idola Timuran" |
|
|---|
| Respons Dedi Mulyadi soal Kades Margaluyu Tak Terima Jembatan Cirahong Tanpa Penjaga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/20250806_GANI_Lomba_Menu_DASHAT_06.jpg)