Senin, 4 Mei 2026

Dampak Larangan Study Tour, Sopir Bus Asal Cimahi Curhat Sering Dimarahi Istri karena Menganggur

Minimnya pesanan bus pariwisata membuat sopir bus lebih banyak menganggur di rumah.

Tayang:
tribunjabar.id / Rahmat Kurniawan
Muhammad Ridwan alias Marwan, sopir bus pariwisata asal Kota Cimahi lebih banyak menganggur dampak kebijakan larangan study tour. 

Operasional satu unit bus yang biasanya mencapai 10 kali dalam sebulan kini hanya menyisakan setengahnya.

"Satu unit paling 5 kali dalam satu bulan, kita punya 13 unit bus, rata-rata sebulan 80 persen keluar, sekarang tinggal 40 persen, jadi setengahnya,"  kata Perwakilan PO Bus KPM, Alex Firmansyah saat ditemui, Senin (28/7/2025).

Alex tak menampik jika kegiatan pariwisata dari sekolah menjadi salah satu andalan dari perusahaan meski harus bersaing secara ketat.

Iring-iringan bus pariwisata yang mengangkut pelaku usaha pariwisata memperlambat perjalanan pulang di Jalan Dr Djunjunan usai menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/7/2025).mereka tumpangi usai menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/7/2025).
Iring-iringan bus pariwisata yang mengangkut pelaku usaha pariwisata memperlambat perjalanan pulang di Jalan Dr Djunjunan usai menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/7/2025).mereka tumpangi usai menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/7/2025). (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Saat ini, perusahaan terpaksa memutar otak lebih keras agar usaha mereka terus berjalan.

"Sekarang acara orang nikah juga kita ambil, ya bagaimana caranya, dulu ziarah ramai sekarang juga turun, kemarin alhamdulillah ada siswa dari Pusdik-Pusdik (Militer) alhamdulillah kebantu," ujarnya.

Alex menegaskan, pihaknya tidak berharap adanya pencabutan Surat Edaran (SE) Nomor 45/PK.03.03.KESRA.

Mereka hanya ingin pemerintah bersikap bijaksana dengan memberikan opsi-opsi alternatif agar usaha mereka tetap berjalan dengan baik. 

"Di perusahaan itu banyak, ada sopir, kenek itu dipikirin, ada bahasa hanya bikin kaya yang punya PO, tidak seperti itu juga, mereka (Sopir dan Kondektur) itu nyari rezeki untuk anak sekolah, beli beras, jajan, toh mereka dari situ. Mereka juga rakyat, kalau ingin mensejahterakan rakyat, mereka juga rakyat kan," tandasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved