Penemuan Batu Diduga Prasasti di Bandung, Ada Gambar Tengkorak, Aksara Sunda Kuno-nya Belum Terbaca

Lokasi batu ini berada tepat di tepi Sungai Cikapundung, yang merupakan salah satu kawasan bersejarah.

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ravianto
hilman kamaludin/tribun jabar
PRASASTI TAMANSARI - Peniliti saat melakukan ekskavasi batu diduga prasasti di Kampung Cimaung, RT 07/07, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Rabu 16 Juli 2025. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebuah batu berukuran besar di permukiman padat penduduk, Kampung Cimaung, RT 07/07, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung menyedot perhatian para peniliti.

Pasalnya, batu tersebut diduga Prasasti Cikapundung Tamansari, sehingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung dengan melibatkan tim arkeolog, epigraf, konservator, dan antropolog, melakukan penelitian.

Lokasi batu ini berada tepat di tepi Sungai Cikapundung, yang merupakan salah satu kawasan bersejarah.

batu prasasti tamansari bandung 2
PRASASTI TAMANSARI - Peniliti saat melakukan ekskavasi batu diduga prasasti di Kampung Cimaung, RT 07/07, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Rabu 16 Juli 2025.

Untuk mengungkap keaslian dan konteks arkeologis batu tersebut, tim peneliti mengekskavasi langsung di lokasi penemuan.

"Penemuannya kalau berdasarkan literatur yang ada dan yang kami selidiki, kami baca juga, penemuan ini menurut pengakuan Pak Oo (Oong Rusmana) pemilik tanah, itu ditemukan tahun 1959," ujar Ahli Pratama Pamong Budaya Disbudpar Kota Bandung, Garbi Cipta Perdana saat ditemui di lokasi, Rabu (16/7/2025).

Baca juga: Dedi Mulyadi Lulus Ujian 2 Prasasti Pajajaran, Segera Susun Buku Ilmiah: "Biar Nanti Tidak Mistik"

Kini batu tersebut kembali menarik perhatian karena menunjukkan dua baris tulisan yang diduga beraksara Sunda Kuno.

Keberadaan tulisan tersebut memunculkan dugaan bahwa batu ini merupakan prasasti peninggalan masa lalu yang belum banyak diketahui publik.

Meski sebagian besar batu tertanam di dalam tanah, bagian yang tampak di permukaan tanah memiliki ukuran panjang 180 sentimeter, lebar 70 sentimeter, dan tinggi 55 sentimeter.

Dalam konteks sejarah Sunda, temuan ini dinilai bisa menjadi bukti penting mengenai aktivitas permukiman atau keagamaan di kawasan Cikapundung pada masa lampau.

Bahkan, temuan ini beberapa kali dikaji oleh sejumlah akademisi, antara lain Nandang Rusnanda, Titi Surti Nasriti, Anton Ferdianto, dan Muhammad Zakaria Hidayat. 

"Sekitar tahun 2005 atau 2006, sudah ada beberapa peneliti yang berkunjung ke sini. Dan baru di tahun 2009, objek ini muncul ke permukaan, ya sudah jadi pembicaraan masyarakat di media masa," katanya.

Namun, hingga saat ini belum ada kesimpulan pasti mengenai periode sejarah dan keaslian aksara pada batu yang diduga prasasti tersebut.

Hal ini, memunculkan perdebatan ilmiah yang masih berlangsung hingga saat ini.

Melalui ekskavasi dan kajian terbaru ini, tim peneliti berharap dapat memperoleh data komprehensif.

Selain memastikan usia dan keaslian prasasti, penelitian juga berharap dapat menjelaskan konteks budaya dan sosial masyarakat masa lalu yang meninggalkan jejak di kawasan Cikapundung.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved