Curang, 60 Persen Beras di Pasaran Ternyata Bukan Beras Premium, Terungkap dari Kajian IPB
Rupanya, ada sekitar 60 persen beras yang beredar tidak memenuhi kategori premium sesuai klaim kemasan.
TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Terungkapnya praktik curang dalam industri perdagangan beras premium jadi sorotan.
Terungkap, praktik kecurangan produsen beras marak dilakukan, dari penggunaan label palsu hingga bobot kemasan yang atk sesuai.
Praktik curang tersebut terungkap berdasarkan hasil kajian lapangan tim Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal tersebut dibenarkan Guru Besar IPB, Prof Edi Santosa.
Untuk mengetahui praktik kecurangan tersebut, tim IPB turun langsung ke pasar-pasar di 10 provinsi untuk memeriksa jenis beras, kesesuaian label dan isi kemasan, hingga harga jual.
Baca juga: Heran, Produksi Surplus Tapi Harga Beras Tinggi di Atas HET, Khudori: Pemerintah Sibuk Menumpuk
Hasilnya, terungkap bahwa sebagian beras tidak sesuai mutu dan berat seperti dalam label.
Rupanya, ada sekitar 60 persen beras yang beredar tidak memenuhi kategori premium sesuai klaim kemasan.
“Kalau yang kami kaji itu awalnya itu adalah beras yang ada di pasar 10 provinsi itu kami datangi, kemudian dicek, ditimbang, diklasifikasikan dulu ini medium apa premium, ditimbang labelnya berapa bobotnya, cocok enggak,” ujar Prof. Edi kepada Tribun Network, Senin (14/7/2025).
Kerugian Negara Nyaris Rp100 Triliun
Kajian tersebut menyimpulkan bahwa praktik ini berpotensi menyebabkan kerugian negara hingga Rp100 triliun.
Namun Prof. Edi menekankan bahwa tidak semua kesalahan bisa langsung dibebankan ke produsen, karena rantai distribusi melibatkan banyak pihak.
“Kalau wadahnya palsu itu kita nggak bisa ngecek. Hanya yang punya produk itu yang bisa ngecek, misalnya beras merek X,” ujarnya.
Selain itu, bobot beras juga sering kali tak sesuai. Banyak produk 5 kg yang setelah ditimbang ternyata kurang dari itu.
“Misalnya 5 kilogram, ternyata begitu ditimbang 4,99 kilogram,” jelasnya.
Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari timbangan tidak terkalibrasi hingga penyimpanan di gudang bersuhu tidak standar, yang menyebabkan penguapan air dan penyusutan berat beras.
“Siapa yang melakukan, apakah sengaja atau tidak, itu nggak bisa langsung salahkan produsen. Itu prosesnya panjang,” tegasnya.
Baca juga: 8 Ciri Beras Asli dan Oplosan menurut Pakar IPB Prof Tajuddin Bantacut, Terasa Manis setelah Dimasak
Mentan Sebar Daftar Merek Tak Sesuai Standar
Temuan IPB tersebut sejalan dengan langkah tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengungkap 212 mafia pangan di 10 provinsi.
Pemerintah melalui investigasi gabungan dengan Satgas Pangan Polri dan Kejaksaan Agung menemukan modus berulang: label mutu palsu, berat berkurang, dan harga yang melebihi HET.
“Kami sudah sebarkan, kami sudah periksa ini yang sosial standar, ini yang tidak sosial standar,” kata Amran kepada wartawan, Sabtu (12/7/2025).
“Mohon kepada pembeli nanti perhatikan merek yang dimunculkan di media-media seluruh Indonesia,” tambahnya.
Mentan berharap masyarakat lebih waspada terhadap merek beras yang dinyatakan bermasalah.
Satgas Pangan Polri Periksa Produsen
Menindaklanjuti temuan tersebut, Satgas Pangan Polri telah memeriksa sejumlah produsen beras premium.
“Iya betul kami lakukan pemeriksaan dari yang sebelumnya disampaikan Pak Menteri Andi Amran,” ujar Brigjen Pol Helfi Assegaf, Kamis (10/7/2025).
Jika ditemukan unsur pidana, Polri berkomitmen menindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku.
Baca juga: Ramai Beras Oplosan Rugikan Konsumen Rp 100 Triliun/Tahun, DPR RI Desak Aparat Cari Siapa Dalangnya
10 Produsen Beras Bermasalah
Berikut daftar 10 merek beras tidak sesuai regulasi berdasarkan hasil sampling investigasi Kementan dan Satgas Pangan Bareskrim Polri:
1. Wilmar Group
Merek: Sania, Sovia, Fortune, Siip
Lokasi Sampel: Aceh, Lampung, Sulsel, Jabodetabek, Yogyakarta
2. PT Food Station Tjipinang Jaya
Merek: Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, Food Station, Setra Pulen
Lokasi Sampel: Sulsel, Kalsel, Jabar, Aceh
3. PT Belitang Panen Raya
Merek: Raja Platinum, Raja Ultima
Lokasi Sampel: Sulsel, Jateng, Kalsel, Jabar, Aceh, Jabodetabek
4. PT Unifood Candi Indonesia
Merek: Larisst, Leezaat
Lokasi Sampel: Jabodetabek, Jateng, Sulsel, Jabar
5. PT Buyung Poetra Sembada Tbk
Merek: Topi Koki
Lokasi Sampel: Jateng, Lampung
6. PT Bintang Terang Lestari Abadi
Merek: Elephas Maximus, Slyp Hummer
Lokasi Sampel: Sumut, Aceh
7. PT Sentosa Utama Lestari / Japfa Group
Merek: Ayana
Lokasi Sampel: Yogyakarta, Jabodetabek
8. PT Subur Jaya Indotama
Merek: Dua Koki, Beras Subur Jaya
Lokasi Sampel: Lampung
9. CV Bumi Jaya Sejati
Merek: Raja Udang, Kakak Adik
Lokasi Sampel: Lampung
10. PT Jaya Utama Santikah
Merek: Pandan Wangi BMW Citra, Kepala Pandan Wangi, Medium Pandan Wangi
Lokasi Sampel: Jabodetabek
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com
Isu Beras Oplosan Bikin Omzet Pedagang Beras di Indramayu Anjlok, Pangan Murah Bikin Tambah Lesu |
![]() |
---|
Pengusaha Majalengka jadi Tersangka Pemalsuan Beras Premium, Ini 12 Merek yang Tak Penuhi Standar |
![]() |
---|
Polda Jabar Bongkar Modus Licik Produsen Beras Premium Abal-Abal: 12 Merek Dioplos, Ada 6 Tersangka |
![]() |
---|
Stok Beras di Bandung Dijamin Aman tapi Harga Mulai Merangkak Naik, Cuaca Jadi Pemicu |
![]() |
---|
Bupati Eman Pastikan Tak Ada Beras Oplosan di Majalengka, Harga Beras Naik Bukan Karena Langka |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.