Jalan Yati di Tengah Keterbatasan Fisik, Dirikan Usaha Jahit dengan Bahan Kain Daur Ulang

Yati Suryati (55), perempuan asal Bojongsoang, Kabupaten Bandung, mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari langkah.

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
TETAP BERKARYA - Yati saat berada di acara Eco Power di Saung Udjo, Jumat (11/7/2025). Yati membuktikan bisa berkarya di tengah keterbatasan fisik. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Siapa sangka, dari tumpukan kain perca dan seragam bekas hotel, seorang ibu rumah tangga bisa menyulapnya menjadi totebag kekinian yang bernilai guna sekaligus estetika?

Yati Suryati (55), perempuan asal Bojongsoang, Kabupaten Bandung, mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari langkah, melainkan awal dari karya.

Kisah Yati menekuni dunia jahit berawal di masa yang tidak mudah. Tahun 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, membawa dampak besar terhadap banyak keluarga, termasuk keluarga Yati.

Suaminya kehilangan pekerjaan. Saat itulah ia memutuskan untuk bangkit dengan menghidupkan kembali keahliannya menjahit yang sempat dipelajari sejak muda.

"Dulu saya ikut kursus desain fesyen padahal sebelumnya enggak minat ke sana. Di sana saya belajar mendesain, belajar gambar, tapi saya keburu menikah dan menjadi ibu rumah tangga," kata Yati saat ditemui di acara Eco Power yang diselenggarakan di Saung Udjo, Jumat (11/7/2025).

Yati pun mulai menerima permak-permak kecil. Dari satu orang ke orang lain, dari mulut ke mulut hingga akhirnya membuka jasa permak dan mulai dipercaya membuat baju.

Baca juga: Disbudpar Sudah Memiliki Bayangan Sulap Teras Cihampelas Bandung Agar Jadi Perhatian Lagi

Kisah Yati tak hanya tentang menjahit pakaian biasa. Di titik tertentu, sebuah peluang datang dalam bentuk yang tak biasa, permintaan untuk mengubah seragam hotel bekas menjadi produk fungsional.

Tak ingin membuang kain-kain berkualitas tersebut, Yati menyambut tantangan dengan tangan terbuka.

“Banyak yang enggak mau pakai seragam bekas, karena kode etik dan desainnya yang khas. Tapi saya lihat ini kainnya bagus-bagus. Sayang banget kalau cuma jadi sampah. Jadi saya coba ubah jadi totebag,” jelasnya.

Yati mengatakan dengan mendaur ulang seragam hotel menjadi produk baru yang fungsional dan bergaya, tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tapi juga ikut menjaga lingkungan.

“Ini solusi karena seragam hotel itu enggak bisa didonasikan, dan enggak semua orang mau pakai. Jadi harus diolah lagi, supaya enggak mubazir,” katanya.

Yati berharap bisa mendapat dukungan lebih besar, baik dalam bentuk kolaborasi, pelatihan, bahkan investor yang tertarik mengembangkan usahanya ke skala lebih luas.

“Saya ingin bikin bukan cuma totebag. Saya suka bikin dompet, pouch, tas dengan desain yang lebih kekinian. Tapi butuh bantuan juga, saya enggak bisa sendiri,” katanya.

Yati mengatakan, ketika membuat satu tas dari pakaian bekas bukan perkara instan. Ia harus melalui serangkaian proses, mulai dari memilah, mencuci, menjemur, menyetrika, hingga mencelup kain yang warnanya mulai pudar agar segar lagi.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved