Rabu, 15 April 2026

Aroma Eksotik dari Bandung, Ketika Petani Meracik Parfum, Jengkol dan Durian Jadi Ilham

Di balik aroma maskulin sebuah parfum lokal bernama Blackstag, tersembunyi jejak seorang petani yang puluhan tahun mengakrabi tanah, hingga durian.

Penulis: Nappisah | Editor: Giri
Tribun Jabar/Nappisah
INDUSTRI PARFUM - Alif (46), seorang petani dari Bandung yang terjun ke industri parfum. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di balik aroma maskulin sebuah parfum lokal bernama Blackstag, tersembunyi jejak seorang petani yang puluhan tahun mengakrabi tanah, hingga durian.

Dia lah Alif (46), pria asal Bandung yang kini menyulap obsesinya terhadap aroma menjadi bisnis parfum yang lahir dari cerita, bukan sekadar tren.

“Aroma itu bukan cuma wangi, tapi pengalaman. Saya membawanya dari kebun, dari hutan, dari durian,” kata Alif saat ditemui di Graha Manggala Siliwangi, beberapa waktu yang lalu.

Blackstag yang diluncurkan Maret lalu, bukan lahir dari ruang laboratorium penuh kalkulasi bisnis, melainkan dari perjalanan panjang dirinya sebagai seorang petani. 

“Saya pernah bertani nilam 20 tahun, gagal. Tapi justru dari situ rasa penasaran saya tumbuh,” ucapnya.

Alif yang juga dikenal sebagai juri durian tingkat Asia, menjadikan kegemarannya pada aroma dari jengkol, pete, hingga durian sebagai ilham.

Baca juga: Viral Kisah Rizky, Anak Penjaga Kantin Lulusan ITB yang Kini Jadi Bos Parfum Beromzet Ratusan Miliar

Ia tak malu menyebut dirinya sebagai penyuka aroma eksotik. Dari sana, parfum-parfum Blackstag tercipta dengan karakter kuat: dewasa, maskulin, dan modern.

“Target kami jelas, yakni pria dewasa yang tahu apa yang dia mau. Saya percaya filosofi Arjuna, membidik dengan sudut, fokus, tanpa menengok kanan-kiri," ujarnya. 

Di balik wangi dan kemasan elegan itu, Alif tetap seorang petani. Ia masih merawat kebun durian, masih ikut lomba durian, dan tetap percaya bahwa dunia pertanian dan parfum bisa saling menguatkan. 

"Saya enggak pernah benar-benar pindah profesi," katanya.

Meski bahan baku sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri, ide dan semangatnya tumbuh di Bandung. 

Baca juga: Kisah Yudi Raup Omzet Capai Rp 150 Juta Per Bulan setelah Resign dan Jual Parfum Online

"Kami libatkan perfumer profesional dari Eropa, tapi cerita, konsep, dan karakternya datang dari sini, dari hidup saya,” ujar Alif.

Bagi Alif, bisnis aroma bukan soal omzet, tapi tentang integritas.

“Enggak usah pakai trik ribet. Yang penting kualitas dan tanggung jawab. Kalau cocok, orang pasti balik lagi,” ujarnya.

Kepada anak muda yang ingin terjun ke dunia wewangian, pesannya sederhana, bahwa seseorang harus terlebih dahulu menyukai sesuatu, karena rasa suka itulah yang membawa kebahagiaan. 

“Kalau kamu suka Ferrari tapi naiknya bikin kamu stres, itu bukan bahagia. Temukan aroma yang membuatmu utuh, baru kamu bisa wangi di jalanmu sendiri," ucapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved