Keren, Uji Sensorik Barista Lewat Cup Taster Competition di Qaca Coffee Brewtellers Kota Bandung

Di tengah maraknya kedai kopi di Bandung, kualitas rasa kopi menjadi hal utama yang diunggulkan.

Tribun Jabar/Putri Puspita
CUP TASTER COMPETITION - Suasana Cup Taster Competition di Qaca Coffee Brewtellers, Jalan Malabar, Kota Bandung, Rabu (4/6/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah maraknya kedai kopi di Bandung, kualitas rasa kopi menjadi hal utama yang diunggulkan.

Dari secangkir kopi yang disajikan di atas meja, ternyata ada perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya kopi bisa dinikmati.
 
Untuk mengasah kemampuan para barista di Bandung dalam menghasilkan rasa kopi terbaik, Qaca Coffee Brewtellers menghadirkan Cup Taster Competition.
 
Pemilik Qaca Coffe Brewtellers, Senfry mengatakan coffee shop ini bukan hanya sebagai tempat menikmati secangkir kopi.
 
“Saya ingin membangun ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, sekaligus mencetak barista-barista profesional kelas nasional,” kata Senfry saat ditemui di Qaca, Jalan Malabar, Rabu (4/6/2025).
 
Melalui Qaca Coffee, Senfry membangun Barista Lab, sebuah ruang pelatihan dengan ruang khusus untuk sensory test dengan pencahayaan khusus. 
 
Di sana, barista bisa belajar mulai dari dasar seperti latte art, hingga menjadi barista profesional bersertifikat.

Baca juga: Link dan Cara Daftar Pelatihan Barista Gratis dari Pemkot Bandung, Dapat Modul hingga Sertifikat

“Proses kopi itu panjang, kopi bagus dari petani, tapi kalau roasting-nya salah, hasilnya jelek. Roasting bagus, tapi baristanya enggak paham, rasanya juga enggak maksimal. Semua proses itu saling nyambung,” ujarnya.
 
Sebanyak 48 peserta dari berbagai daerah antusias untuk bisa mengikuti acara ini. Pemenang kompetisi akan mendapatkan hadiah menarik mulai dari alat kopi hingga hadiah uang tunai.
 
“Kita buka pendaftaran lewat Instagram, sudah ada yang daftar dari Sumatera, Jawa Tengah, Bekasi. Saya lihat antusiasme cukup besar, dan saya berharap Bandung bisa jadi pusatnya, supaya orang enggak perlu jauh-jauh ke Jakarta lagi,” kata Senfry.
 
Sementata itu Head Barista Lab Qaca, Dea Uwok menjelaskan Cup Taster Competition menjadi salah satu cabang kompetisi dalam dunia kopi yang menguji kepekaan sensorik para peserta terhadap cita rasa dan aroma. 
 
Menurut Dea, ajang ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga soal ketepatan dalam mengenali perbedaan rasa.
 
“Secara sederhana, peserta harus mencari satu rasa yang unik dari tiga cangkir kopi. Dari delapan set, totalnya ada 24 cangkir yang harus diuji dalam waktu maksimal delapan menit,” kata Dea saat ditemui di sela kompetisi.
 
Setiap set terdiri dari tiga cangkir, dua di antaranya identik, satu berbeda. Perbedaannya bisa sangat halus, seperti tingkat keasaman, manis, atau aftertaste. 
 
Penilaian didasarkan pada jumlah jawaban yang benar dan waktu tercepat. Jika dua peserta mendapat nilai yang sama, waktu tercepat yang jadi penentu.
 
Dea menambahkan bahwa kompetisi ini mengasah dua indera penting dalam profesi barista, yaitu pengecap dan pencium. 

Baca juga: Mantap! DBHCHT di Sumedang Biayai Pelatihan untuk Kaum Muda, Barista hingga Servis Motor Injeksi

“Kalau bisa nebak dengan benar semua cup, berarti kepekaan sensoriknya luar biasa. Ini penting buat standar kualitas kopi sehari-hari,” katanya.
 
Tak hanya barista, peserta kompetisi juga datang dari beragam latar belakang, seperti pemilik kedai kopi, barista, penikmat kopi, hingga penggiat komunitas.

“Yang penting punya ketertarikan terhadap kopi, bahkan ada juga yang cuma suka jajan kopi, tapi ingin tahu dunia sensory lebih dalam,” tambahnya

Kompetisi ini diikuti oleh 48 peserta, hari pertama diisi dengan 12 pertandingan penyisihan, masing-masing terdiri dari 4 orang. Keesokan hari akan dipilih 16 besar yang masuk semifinal hingga babak final.
 
Cup Taster Competition kali ini menjadi ajang ketiga bagi Bima, seorang barista asal Bekasi. Sebelumnya, ia sudah pernah mengikuti kompetisi serupa di Cirebon dan Bandung.
 
Bima mengaku setiap kompetisi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. 

“Sebenarnya semuanya susah, cuma tantangannya beda-beda, kadang ada yang bikin susah karena intensitas rasanya, kadang karena rasa kopinya benar-benar mirip banget jadi sulit dibedakan,” jelasnya.
 
Menurut Bima, kunci utama dalam kompetisi Cup Taster adalah fokus dan tidak terburu-buru. 
 
“Rasa kopi itu beda-beda tipis. Kalau enggak fokus, bisa salah milih. Jadi harus hati-hati banget,” kata pria berusia 30 tahun ini.

Dalam kesehariannya, Bima memang bekerja sebagai barista. Baginya, kemampuan sensori seperti yang dilatih dalam kompetisi ini sangat penting dalam profesinya. 

“Kopi itu minuman yang punya banyak karakteristik, kemampuan menilai kopi lewat cita rasa itu penting banget buat barista,” ungkapnya.

Bima pun membagikan tips khusus dalam  menghadapi Cup Taster Competition. Menurutnya, latihan secara konsisten adalah cara terbaik mengasah kepekaan sensorik. 

“Sering-sering ngopi, nyobain berbagai jenis kopi dan proses, itu bantu banget. Jangan lupa sharing juga sama teman-teman, banyak belajar dari sesama barista,” kata dia. (*)

Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews.

IKUTI CHANNEL WhatsApp TribunJabar.id untuk mendapatkan berita-berita terkini via WA: KLIK DI SINI

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved