Sabtu, 25 April 2026

Pengamat Ingatkan Risiko Mengerikan di Balik Stok Beras Jumbo Bulog 4 Juta Ton yang Catat Rekor

Pertama kalinya sepanjang sejarah, stok beras di gudang Perum Bulog menembus angka 4 juta ton per 29 Mei 2025. 

Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
GUDANG BULOG - Foto ilustrasi stok beras di satu gudang Perum Bulog Kanwil Jawa Barat. Pertama kalinya sepanjang sejarah, stok beras di gudang Perum Bulog menembus angka 4 juta ton per 29 Mei 2025. Namun di balik rekor ini, pemerintah wajib mengantisipasi karena keberlimpahan stok ini justru menyimpan sederet persoalan serius. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pertama kalinya sepanjang sejarah, stok beras di gudang Perum Bulog menembus angka 4 juta ton per 29 Mei 2025. 

Namun di balik rekor ini, pemerintah wajib mengantisipasi karena keberlimpahan stok ini justru menyimpan sederet persoalan serius.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, mengatakan bahwa dari total stok tersebut, sekitar 2,4 juta ton berasal dari serapan dalam negeri, sedangkan sisanya merupakan sisa stok tahun lalu yang sebagian besar hasil impor. 

Menurut Khudori,  stok ini bahkan diperkirakan masih akan bertambah karena proses pengadaan belum rampung dan ditargetkan mencapai 3 juta ton dari produksi domestik.

Namun Khudori mengingatkan bahwa beras bukanlah komoditas yang bisa disimpan dalam jangka panjang. Idealnya, kata dia, beras disalurkan dalam waktu maksimal empat bulan untuk menghindari penurunan mutu.

Baca juga: Bukan Jakarta, Penyerapan Beras Terbanyak Ada di Cirebon, Bulog Buka Data Lengkapnya

 “Semakin lama disimpan, semakin tinggi biaya perawatan dan semakin besar risiko turun mutu hingga penyusutan volume,” ujar Khodiri, Minggu (1/6/2025).

Situasi ini diperparah dengan rendahnya penyaluran Bulog sejak awal tahun.

Data mencatat, hingga Mei 2025, distribusi beras untuk operasi pasar (SPHP) baru mencapai 181 ribu ton. 

Bantuan pangan yang sempat direncanakan untuk Januari-Februari lalu sempat dihentikan. Akibatnya, beras terus masuk, tapi nyaris tidak keluar.

“Kalau Bulog itu makhluk hidup, kondisinya seperti dipaksa makan terus tanpa pernah buang air. Awalnya mulas, lalu bisa sakit. Sekarang Bulog bahkan harus menyewa gudang tambahan karena gudang eksisting yang berkapasitas 3,7 juta ton sudah penuh,” katanya.

Dampaknya tidak hanya teknis, tapi juga finansial. Pada triwulan pertama 2025, Bulog tercatat merugi hingga Rp1,4 triliun akibat membengkaknya biaya operasional dan penyimpanan.

Khudori memperkirakan agar stok tidak menumpuk hingga akhir tahun, Bulog harus menyalurkan minimal 2,8 juta ton beras dalam tujuh bulan ke depan, atau sekitar 400 ribu ton per bulan. 

Angka tersebut sangat ambisius mengingat sejarah Bulog hanya dua kali mencatat penyaluran sebesar itu, yakni pada Desember 1997 dan Februari 1998.

Baca juga: ASEAN All Stars Menang, Justru Kakang, Riski dan Timnas Indoneisa yang Disorot Media Inggris

Sebagai perbandingan, penyaluran sepanjang 2024 hanya mencapai rata-rata 308 ribu ton per bulan, padahal saat itu terdapat program bantuan pangan besar dan pasar cukup aktif menyerap.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved