bjb Bandoeng 10K , Lomba Lari Berstandar Dunia dari Kota Bandung
Tiga ribu pelari dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara berkumpul di Kota Bandung untuk ambil bagian dalam bank bjb Bandoeng 10K
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tiga ribu pelari dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara berkumpul di Kota Bandung untuk ambil bagian dalam bank bjb Bandoeng 10K , ajang lari jalan raya yang tak hanya menjanjikan kompetisi ketat, tapi juga pengalaman berlari dengan standar internasional.
Dengan rute sepanjang 10 kilometer yang telah tersertifikasi oleh International Measurement Standard (IMS) dan World Athletics, ajang ini kian memperkuat posisinya sebagai lomba lari bergengsi di Tanah Air.
“Kalau 3.000 ini, hampir 96 persen adalah WNI. Sisanya dari Kenya, Ethiopia, Singapura, dan Malaysia,” kata Budhi Sarwiadi, General Manager Event Kompas, saat ditemui di sela-sela acara, Sabtu (17/5/2025).
Tahun ini, kata dia, bank bjb Bandoeng 10K tak hanya menjadi arena adu cepat, tetapi juga panggung unjuk kualitas penyelenggaraan.
Bahkan, rertifikasi resmi dari Asosiasi Maraton dan Lari Jarak Jauh Internasional (Association of International Marathons and Distance Race/AIMS).
“Rutenya bukan cuma kita ukur secara internal, tapi sudah benar-benar sesuai standar dunia,” jelas Budhi.
Budhi juga menambahkan bahwa elevasi rute menjadi perhatian tersendiri. Dari kilometer 1 hingga 4, tanjakan ringan sekitar 1 persen menjadi pemanasan bagi pelari. Namun, tantangan sesungguhnya hadir di kilometer 4 hingga 7, di mana elevasi meningkat cukup signifikan. Untuk menyiasatinya, panitia menempatkan pacer elit setiap 2,5 kilometer agar pelari unggulan tetap dapat menjaga ritme dan kecepatan.
Bandung kini semakin dikenal sebagai kota tujuan utama bagi komunitas lari dan atlet profesional. Tahun ini, sekitar 60 persen peserta berasal dari Jawa Barat, dengan separuhnya dari Kota Bandung.
Namun yang menarik, 40 persen peserta datang dari luar provinsi, mencakup 18 provinsi dan 97 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
“Ini menandakan bahwa Bandung mulai menjadi destinasi lari yang diminati. Bahkan atlet elit memilih turun di sini, meski ada event lain di kota-kota besar pada waktu yang sama,” ucap Budhi.
Budhi mengatakan, menyelenggarakan event besar di tengah kota, tentu menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait sterilisasi jalur. Untuk itu, panitia menerapkan sistem point-to-point alih-alih loop, guna menghindari penutupan jalan dalam waktu lama.
“Kalau pakai loop, jalan bisa tertutup sampai dua jam penuh. Dengan sistem point-to-point, kita bisa buka secara bertahap setelah peserta lewat,” jelas Budhi.
Tak hanya itu, panitia juga menempatkan petugas di titik-titik krusial untuk memberikan arahan bagi warga. Tujuannya, agar masyarakat tetap bisa beraktivitas tanpa merasa terganggu.
“Kita ingin warga juga merasa dilibatkan, bukan hanya jadi penonton. Lari ini bukan cuma untuk pelari, tapi juga bisa jadi momen bersama untuk kota,” ujarnya.
| Heboh Data Warga Bandung Diduga Bocor, DPRD Minta Pemkot Perkuat Mitigasi dan Pengamanan |
|
|---|
| ITB Siap Gelar UTBK 2026, Bakal Tampung Lebih dari 18 Ribu Peserta |
|
|---|
| Honda Safety Generation di SMAN 14 Bandung, Siswa Diajak Jadi Pelopor Keselamatan |
|
|---|
| Jangan Iseng Pakai Tiket Palsu, Satpol PP Siap Tindak Penonton Nakal di Laga Persib Vs Bali United |
|
|---|
| Jalan Akses Stadion GBLA Terendam 2 Kilometer Jelang Laga Persib, Rumah Pompa Disiagakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Odekta-Elvina-Naibahopemegang-rekor-nasional-10K.jpg)