Minggu, 26 April 2026

Mendikdasmen Bolehkan Study Tour, Dedi Mulyadi: "Tidak Boleh Anak Piknik di Atas Rintihan Orangtua"

Mendikdasmen Abdul Mu'ti, memberikan imbauan penting kepada sekolah-sekolah terkait pelaksanaan study tour.

Humas Jabar
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat rakor penanganan banjir di wilayah Jabar bersama Menteri ATR/BPN, Wakil Menteri Pekerjaan Umum di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Senin (17/3/2025). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memberikan imbauan penting kepada sekolah-sekolah terkait pelaksanaan study tour.

Ia menegaskan bahwa persiapan matang, termasuk memastikan kondisi kendaraan dan kualitas sopir, merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Pernyataannya ini disampaikan pada Senin (24/3/2025) di Kantor Kemendikdasmen.

"Tolonglah dipastikan betul, terutama terkait mitra transportasinya, karena banyak kecelakaan terjadi akibat kendaraan yang tidak layak," ujar Mu'ti.

Ia menggarisbawahi bahwa kolaborasi dengan biro transportasi yang memiliki standar keselamatan tinggi adalah prioritas.

"Diusahakan agar biro transportasinya benar-benar berkualitas, dengan kendaraan yang layak serta sopir yang mengutamakan keselamatan penumpang," tambahnya.

Meski beberapa pemerintah daerah memilih untuk menghentikan kegiatan ini, Abdul Mu'ti menyatakan bahwa ia tidak melarang study tour selama persiapan dilakukan dengan serius.

Menurutnya, kegiatan ini dapat memberikan pengalaman belajar yang bernilai jika dirancang secara edukatif.

"Jangan sampai study tour hanya menjadi rutinitas tanpa unsur pendidikan yang jelas," tuturnya dengan tegas.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan guru selama kegiatan berlangsung agar siswa tetap berada dalam pengawasan yang memadai dan risiko yang tidak diinginkan dapat diminimalkan.

Kontroversi di Jawa Barat: Larangan Gubernur Dedi Mulyadi

Berbeda dengan sikap Abdul Mu'ti, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengambil langkah tegas dengan melarang study tour bagi siswa SMA dan sederajat di wilayahnya.

Meskipun Mendikdasmen memberikan lampu hijau, Dedi mengungkapkan kekhawatirannya terhadap esensi kegiatan tersebut.

Menurutnya, study tour lebih sering menyerupai perjalanan wisata dibandingkan kegiatan edukasi.

"Saya tidak melarang study tour dalam arti sesungguhnya, tetapi selama ini kegiatan itu lebih condong ke arah piknik. Saya ingin memastikan bahwa pendidikan di Jawa Barat benar-benar berfokus pada substansi, bukan sekadar perjalanan tanpa esensi. Jika ada kepala sekolah yang tetap bersikeras mengadakan study tour, silakan berhadapan langsung dengan saya," ungkap Dedi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (24/3/2025) malam.

Ia juga menyoroti adanya motif bisnis yang mendominasi penyelenggaraan study tour, yang menurutnya lebih menguntungkan perusahaan travel daripada memberikan manfaat pendidikan. "Jika seperti itu, namanya bukan study tour, melainkan piknik," tegasnya.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved