Jumat, 10 April 2026

Peringatan Dini BMKG, Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut hingga 11 Maret, Pemerintah Diminta Reponsif

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di Indonesia pada 4-11 Maret 2025.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Giri
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI CUACA EKSTREM -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, pada 4-11 Maret 2025. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, pada 4-11 Maret 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, hujan dengan intensitas tinggi, khususnya terjadi di bagian barat dan Kepulauan Papua.

Gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Low Frequency, dan Kelvin diprediksi tetap aktif di sebagian besar Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, serta Kepulauan Papua yang berdampak pada peningkatan pertumbuhan awan hujan dengan intensitas bervariasi di wilayah-wilayah tersebut.

Guswanto menerangkan, analisis terbaru juga menunjukkan terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, tepatnya di barat Aceh, serta di selatan Papua.

Baca juga: BMKG Catat 98 Gempa di Jabar selama Februari 2025, 47 Gempa di Antaranya Berpusat di Darat

Keberadaan sirkulasi siklonik ini menyebabkan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di berbagai perairan, termasuk Laut Natuna, Laut Banda, perairan selatan Sulawesi, Laut Arafuru, dan Maluku.

Selain itu, daerah pertemuan angin (konfluensi) juga terdeteksi membentang di Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, hingga Papua bagian selatan.

Sebelumnya, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem telah terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kota Cirebon, Riau, Kabupaten Bogor, Kabupaten Mimika, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Manggarai. 

BMKG telah secara aktif memberikan informasi cuaca terkini, namun kesiapan daerah dalam merespons peringatan dini masih perlu ditingkatkan guna mengurangi dampak bencana yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan peran serta pemerintah daerah dalam mitigasi bencana sangat krusial, terutama dalam memastikan setiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan. 

Dwikorita mengatakan peringatan dini bukan sekadar informasi, tetapi juga seruan untuk tindakan nyata. Kecepatan dan kesiapan dalam merespons peringatan dini cuaca ekstrem sangat menentukan upaya mitigasi resiko, baik dari segi korban jiwa maupun kerugian materiil.

Baca juga: Permintaan Tinggi dan Cuaca Ekstrem Jadi Biak Kerok Kenaikan Harga Cabai di Bandung

“Kami terus menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem melalui berbagai kanal komunikasi resmi, termasuk website, aplikasi mobile, SMS blasting, dan media sosial BMKG. Namun, efektivitas peringatan dini ini sangat bergantung pada kesiapan daerah dalam meresponsnya dengan langkah konkret. Diperlukan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan masyarakat guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi  secara lebih cepat dan efektif,” ujar Dwikorita, Selasa (4/3/2025).

Dwikorita menambahkan, BMKG memahami banyak daerah saat ini dipimpin oleh kepala daerah baru yang mungkin masih dalam proses adaptasi dengan perangkat di bawahnya. BMKG siap memberikan pendampingan lebih lanjut, agar pemahaman terhadap sistem peringatan dini semakin optimal dan dapat diterjemahkan ke dalam tindakan mitigasi yang efektif. 

Selain itu, lanjutnya, BMKG mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengakses informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, sehingga dapat mengambil langkah-langkah pencegahan lebih dini. Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, BMKG, dan masyarakat, diharapkan dampak dari bencana akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved