Selain Study Tour, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Mengatur Soal Wisuda dan Buku Kenangan di Sekolah
Menurut Dedi, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan siswa terhadap guru serta menciptakan sistem yang lebih efisien dan hemat biaya
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menarik perhatian publik dengan kebijakan barunya di dunia pendidikan.
Setelah sebelumnya melarang sekolah-sekolah mengadakan study tour, kini ia mengemukakan gagasan untuk mengubah beberapa aturan di institusi pendidikan.
Menurut Dedi, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan siswa terhadap guru serta menciptakan sistem yang lebih efisien dan hemat biaya bagi orang tua.
Perubahan-perubahan yang diajukan Dedi Mulyadi tidak muncul begitu saja. Ia mengaku mendengar langsung keluhan dari para orang tua siswa terkait mahalnya biaya pendidikan.
Tak hanya itu, Dedi juga berdiskusi dengan sejumlah tenaga pendidik, termasuk Asep Mulyana, Kepala Sekolah SMAN 3 Purwakarta, untuk mendapatkan masukan mendalam. Berikut adalah tiga aturan yang menjadi fokus kebijakannya.
1. Larangan Wisuda untuk Jenjang TK hingga SMP
Dalam salah satu unggahan TikTok-nya yang viral, Dedi menyatakan bahwa wisuda di jenjang TK, SD, hingga SMP dirasa kurang relevan dan hanya membebani orang tua dengan biaya yang tidak perlu. Ia menilai bahwa wisuda lebih cocok untuk jenjang pendidikan seperti S1 atau diploma.
"Saya kan melarang di sekolah itu bikin kegiatan wisuda. Karena wisuda itu menurut saya cocoknya S1, atau diploma 3. Ini TK wisuda, SD wisuda, SMP wisuda. Nah ujung wisuda ini kan biaya lagi, ribut lagi," ujar Dedi dalam pernyataannya yang dilansir TribunnewsBogor.com, Minggu (2/3/2025).
Sebagai alternatif, Dedi menyarankan agar acara kelulusan diadakan dalam bentuk pertunjukan seni di sekolah.
Pemerintah provinsi bahkan siap membantu pembangunan gedung serba guna di berbagai sekolah di Jawa Barat untuk mendukung kegiatan tersebut.
Gedung ini nantinya dapat digunakan untuk berbagai acara, seperti pertunjukan tari, musik, pemutaran film edukatif, dan kegiatan kreatif lainnya.
2. Efisiensi Buku Kenangan Sekolah
Masalah berikutnya yang menjadi perhatian adalah tingginya biaya untuk buku tahunan siswa. Kebiasaan ini dianggap memberatkan, terutama bagi siswa dan orang tua.
Dalam diskusinya, Asep Mulyana mengungkapkan bahwa biaya untuk satu buku kenangan bisa mencapai Rp150 ribu hingga Rp450 ribu per anak.
"Jadi album kenangan itu mahal juga. Kami para guru sudah menyarankan, yang tadinya barang cetakan (foto) ganti aja sama digital. Itu antara Rp150 ribu sampai Rp450 ribu album kenangan," ungkap Asep.
| Gagasan Dedi Mulyadi Soal Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Pertama Siap Berlaku Nasional |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Kecam Pelaku Premanisme yang Aniaya Petani 70 Tahun di Cikatomas Tasikmalaya |
|
|---|
| Atasi Macet Kronis di Pasteur Bandung, Dedi Mulyadi Kaji Pembangunan Underpass Baru |
|
|---|
| Siswa SMAN 1 Purwakarta Ejek Guru, Dedi Mulyadi Saran Hukuman Bersihkan Toilet dan Halaman Sekolah |
|
|---|
| Fenomena Gengsi Picu Kemiskinan Baru, Dedi Mulyadi Ungkap Pentingnya Edukasi Finansial soal Hajatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/20250221_GANI_Sertijab_Gubernur_Jabar_06.jpg)