Rabu, 13 Mei 2026

Jatuh Bangun Perjuangan Pengidap Kanker di Bandung Demi Bisa Sembuh

Selama bertahun-tahun, mereka harus terus berjuang agar bisa sembuh dari penyakit tersebut.

Tayang:
tribunjabar.id / Hilman Kamaludin
HARI KANKER - Peringatan World Cancer Day di Klinik Perisai Husada, Jalan Halmahera, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Minggu (23/2/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah pengidap kanker tampak riang gembira saat memperingati World Cancer Day di Klinik Perisai Husada, Jalan Halmahera, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Minggu (23/2/2025).

Mereka tampak asyik saat mengikuti berbagai macam kegiatan seperti zumba, singing and dancing contest, games dan lain-lain meski kondisi tubuhnya dalam keadaan kurang sehat karena harus berjuang melawan kanker.

Selama bertahun-tahun, mereka harus terus berjuang agar bisa sembuh dari penyakit tersebut. Bahkan pengidap kanker itu tak kenal lelah terus berobat dan mengikuti saran dokter spesialis demi kesembuhannya.

"Saya dioperasi kanker tahun 2015, berarti sudah 10 tahun yah. Dengan proses perjalanan sampai sekarang jatuh bangun segala macam, yang menyedihkan, yang mengecewakan, yang menyakitkan, sudah saya alami," ujar seorang pengidap kanker, Ani Kartini (60), Minggu (23/2/2025).

Namun karena dengan adanya dorongan dan bantuan dari berbagai pihak terutama dari Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC), hingga saat ini Ani bisa tetap bertahan dalam keadaan sehat.

"Salah satunya sih karena semangat ya, kekompakan teman-teman juga mendorong, memotivasi, untuk tetap sehat dan bersemangat meskipun sakit berdarah-darah sampai sangat menyakitkan. Saya Kanker payudara, jadi dua-duanya sudah diangkat," katanya.

Demi kesembuhannya, Ani bersama para pengidap kanker yang lain mengikuti berbagai macam kegiatan dalam rangka memperingati World Cancer Day yang diadakan oleh PrCC bersama Klinik Perisai Husada.

Menurutnya, acara ini sangat bermanfaat karena ketika di rumah dan berada sekeliling keluarga, Ani mengaku kerap merasa yang paling sedih, paling menderita. Tetapi ketika kita bertemu dengan pengidap kanker yang lain ternyata kesedihannya itu tidak seberapa.

"Dijalani sajalah, karena meninggal itu bukan karena kanker tapi sudah takdir, kanker itu hanya salah satu jalan buat meninggal. Justru kami merasa lebih disiapkan karena penderita kanker itu memang akan meninggal, tapi kan tidak tahu kapan," ucap Ani.

Menurut Ani, dengan kondisi tersebut dia bisa memiliki waktu untuk lebih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sambil berikhtiar demi kesembuhannya dengan cara terus berobat, dan tentu menerapkan pola hidup sehat.

"Kalau mengidap penyakit kanker itu seperti ada sinyal, rambu-rambu. Kalau orang sehat kan enggak tahu (kapan meninggal), tapi kami bisa besok atau lusa," katanya.

Sebelumnya, Kepala Program Studi Spesialis Bedah Tumor dari Universitas Padjadjaran (Unpad), dr Monty P Soemitro mengatakan, dari total jumlah pengidap kanker di seluruh wilayah Jawa Barat termasuk Kota Bandung, hampir 1:8 merupakan pengidap kanker payudara.

"Jadi tidak hanya di Bandung, tapi hampir di seluruh Jawa Barat rata-rata terbesar itu kanker payudara. Kalau 1:8 berarti kira-kira di Jawa Barat itu, 3 juta kemungkinan terkena kanker payudara," ujarnya.

Monty yang juga Pembina Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC), mengatakan, faktor yang memicu kanker payudara tersebut satu di antaranya yakni pola hidup karena hal itu berpengaruh terhadap faktor hormonal.

"Memang masyarakat sudah olahraga, sepeda, gowes, lari, dan sebagainya, tapi tetap pola hidup makan juga penting. Selama ini pola hidup makan masih buruk, sehingga kadar hormonnya tinggi," kata Monty.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved