Simbolisme Dodol dan Lilin dalam Tradisi Imlek di Kelenteng Dharma Ramsi Kota Bandung
Kelenteng Dharma Ramsi di Bandung, selain dikenal sebagai tempat ibadah yang penuh dengan nilai-nilai spiritual, juga menyimpan banyak simbolis.
Penulis: Nappisah | Editor: Januar Pribadi Hamel
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kelenteng Dharma Ramsi di Bandung, selain dikenal sebagai tempat ibadah yang penuh dengan nilai-nilai spiritual, juga menyimpan banyak simbolis dalam setiap tradisi dan ritual yang diadakan.
Salah satu simbol yang cukup menarik perhatian adalah dodol, makanan khas yang sering muncul dalam berbagai perayaan keagamaan di kelenteng ini, terutama saat Imlek.
Menurut Asui, seorang sesepuh Kelenteng Dharma Ramsi, dodol memiliki makna yang mendalam bagi warga Tionghoa, baik dalam hal kebersamaan maupun dalam hubungan dengan Tuhan.
Asui menjelaskan bahwa dodol, yang biasanya disajikan dalam berbagai bentuk baik bulat besar maupun kecil memiliki makna simbolis yang sangat kuat.
"Dodol ini, kalau kita makan bersama, itu artinya kita lengket, kita bersatu. Tidak membedakan siapa pun, siapa saja bisa datang, makan dodol, dan itu menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi," ujarnya, Selasa (28/1/2025).
Baca juga: Sejarah Panjang Kelenteng Dharma Ramsi, Simbol Toleransi di Kota Bandung, Dulunya Pabrik Tahu
Makna "lengket" di sini adalah metafora dari kedekatan hubungan antar individu, terutama dalam keluarga dan komunitas.
Ia menuturkan, makan dodol bersama dianggap sebagai tindakan yang dapat memperkuat ikatan persaudaraan dan kebersamaan.
Lebih dari sekadar makanan, dodol juga dihubungkan dengan tradisi ibadah.
"Dodol ini bisa digunakan untuk sembahyang juga. Setiap rumah atau keluarga yang melakukan ritual sembahyang biasanya menyiapkan dodol di depan altar sebagai simbol untuk menarik berkah dan keberuntungan," tambah Asui.
Selain dodol, kelenteng juga memiliki simbol lain yang tidak kalah penting yakni lilin.
Lilin-lilin yang menghiasi Kelenteng Dharma Ramsi memiliki makna yang dalam, terutama selama perayaan Imlek.
"Lilin ini melambangkan kehidupan yang terus menyala, menerangi jalan hidup kita," jelas Asui.
Filosofi lilin yang terus menyala ini mengajarkan umat untuk tidak kehilangan arah, baik di dunia ini maupun di alam yang lebih tinggi.
Setiap lilin yang ada di kelenteng ini seringkali disumbangkan oleh keluarga-keluarga yang datang, dengan masing-masing lilin membawa nama keluarga dan alamat mereka.
| Heboh Data Warga Bandung Diduga Bocor, DPRD Minta Pemkot Perkuat Mitigasi dan Pengamanan |
|
|---|
| ITB Siap Gelar UTBK 2026, Bakal Tampung Lebih dari 18 Ribu Peserta |
|
|---|
| Honda Safety Generation di SMAN 14 Bandung, Siswa Diajak Jadi Pelopor Keselamatan |
|
|---|
| Jangan Iseng Pakai Tiket Palsu, Satpol PP Siap Tindak Penonton Nakal di Laga Persib Vs Bali United |
|
|---|
| Jalan Akses Stadion GBLA Terendam 2 Kilometer Jelang Laga Persib, Rumah Pompa Disiagakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/SAMBUT-IMLEK-Kelenteng-Dharma-Ramsi.jpg)