Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ke-11: Lhokseumawe, Langsa, Pangkalanbrandan, dan Keanehan tentang Sinyal Internet
Angin memang terasa lebih kencang dan ombak lebih besar sehingga beberapa kali kuda-kuda saya agak goyah.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan
HARI ini, Kamis, 27 Juni 2024, merupakan hari kesebelas Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024. Artinya, kami baru menjalani separuh perjalanan. Kami sedang menuju Malaka, Malaysia, yang menurut jadwal bakal dicapai hari Minggu pagi mendatang.
Seperti kemarin, saya bangun lebih awal sekitar dua menit dari alarm. Saya merasa segar karena waktu dan kualitas tidur yang memadai.
Seperti biasa, saya buang air besar, mandi, dan berwudu. Saya sudah selesai mandi ketika terdengar azan Subuh dari kapal, sekitar pukul 05.15. Saya menduga angin masih lembut seperti kemarin, jadi naik ke geladak hanya mengenakan sarung dan kaus oblong. Ternyata angin bertiup lumayan kencang, tapi malas juga turun untuk mengambil jaket. Mudah-mudahan saya masih bisa bertahan dari kemungkinan masuk angin.
“Kita sedang melewati kawasan Lhokseumawe,” kata Petrik Matanasi dari Historia.id.
Kami melaksanakan Subuh berjemaah dengan kiblat yang agak serong ke kanan dari buritan. Saya sempat berpikir, jika demikian, kapal mengarah ke timur sedikit timur laut. Padahal, kalau mengikuti arah tubuh Pulau Sumatra, mestinya kapal mengarah ke timur sedikit tenggara. Apakah arah kiblat kami sudah benar? Ah, tapi saya tidak mau berpikir lebih jauh. Saya percaya awak kapal lebih tahu soal itu.
Angin memang terasa lebih kencang dan ombak lebih besar sehingga beberapa kali kuda-kuda saya agak goyah. Syukurlah, saya tidak sampai terjatuh. Saya masih kuat. Saya masih sehat.
Sehabis Subuh, saya sempat menulis, tapi laptop terburu habis baterai.
Sarapan kali ini “kembali ke khittah”: menu pagi yang biasa, yakni telur dadar, sayur, dan kerupuk. Saya makan bersebelahan dengan Jessika Nadya, salah satu penanggung jawab program MBJR 2024 yang menemani kami selama perjalanan. Tanpa kutanya, Jessika sempat menjelaskan mengapa kemarin paspor dibagikan tapi dikumpulkan lagi. Rupanya, semula pihak Imigrasi ingin mengecap paspor sambil berhadapan dengan pemiliknya satu per satu untuk pemeriksaan wajah. Namun waktu yang mepet kemudian menjadi pertimbangan sehingga pengecapan dilakukan secara kolektif.
Pagi-pagi di ruang bawah tak ada sinyal internet. Saya tidak bisa sekadar memeriksa pesan WA yang masuk. Karena itu, saya hanya berdiri dekat tempat tidur, bengong atau sedikit ngobrol dengan Yudhi dan Petrik. Laskar rempah berkumpul di ruang tidur laki-laki sehingga saya tidak bisa meneruskan menulis di sana.
Saya memutuskan naik ke lounge dan mengetik di sana bareng Yoan, Petrik, dan Dian. Belakangan Yudhi bergabung, lalu juga salah satu pakar yang ikut dari Sabang menuju Malaka, Hermansyah Yahya, seorang dosen di UIN Ar-Raniri Banda Aceh.
Sebenarnya saya ingin ke geladak atas, tapi sampai sekitar pukul 10 gerimis masih turun, meski kecil. Kami pun mengisi waktu dengan ngobrol ringan. Hermansyah menyampaikan apa yang akan dia sampaikan di depan Laskar Rempah. Tak lama kemudian seorang awak kapal yang bekerja di dapur menyuguhkan bubur kacang ijo yang dicampur dengan potongan-potongan pisang. Masih mengepul karena panas. Saya menyantapnya tanpa terlalu banyak air. Biasa, mencegah beser.
Setelah itu saya sempat berbaring di tempat tidur, bahkan mungkin terlelap, karena bangun setelah mendengar suara Yudhi yang membangunkan saya.
“Ayo, makan.”
Kata makan memang sangat kuat untuk menarik saya dari tempat tidur. Lalu kami sama-sama naik ke lounge. Seperti biasa pula, lauk untuk makan siang adalah ayam goreng, tempe goreng, dan sayur sop. Namun, ada kejutan ternyata.
Anggota Laskar Rempah yang bertugas melayani makan siang ini menawarkan lauk tambahan.
“Mau telur dadar?” tanyanya. Saya tahu telur itu pasti sisa lauk makan pagi yang tidak habis. Tapi bukan masalah, kan?
“Boleh kalau tidak ada yang makan.”
Jadi makan siang kali ini termasuk istimewa.
Setelah makan terdengar pengumuman saatnya salat Zuhur dengan kiblat “hijau 160”, yang berarti 160 derajat ke kanan dari haluan. Dengan kata lain, 20 derajat ke kiri dari buritan. Saya tunaikan salat di lorong di antara tempat tidur Faiz dan tempat tidur Yudhi. Goyangannya terasa lembut.
Pukul satu siang saya naik ke geladak atas, bergabung dengan teman-teman undangan lainnya, untuk turut menyimak materi dari Prof. Ichwan Azhari, antropolog dari Universitas Medan, tentang sejarah kafur, salah satu jenis rempah yang tercantum di Al-Quran. Prof. Ichwan menekankan bahwa yang benar kafur, bukan kapur barus seperti yang disebut banyak orang.
Prof. Ichwan juga menyampaikan sejarah tentang kemenyan, jenis rempah yang menjadi bahan penting parfum-parfum produk Prancis. “Tapi di Jawa menjadi bahan yang mistik,” kata Prof. Ichwan.
Sambil menyimak, saya sempatkan memosting naskah buat Tribunjabar.id dan Facebook, serta tidak lupa mengirim kabar buat orang rumah lewat pesan WhatsApp.
Setelah sesi Prof Ichwan, kami beristirahat dulu. Sebagian peserta, termasuk saya, sempat meluruskan badan telentang di lantai geladak. Mungkin saya sempat terlelap karena beberapa saat kemudian mata terasa segar. Oh, ya, jumlah anggota Laskar Rempah yang hadir di sesi siang ini hanya 20 orang. Lima orang lainnya mengalami sakit dan mabuk. Salah satu di antaranya, Nafas Triwidiawati, bahkan sampai terjatuh di tangga dan muntah-muntah. Semoga mereka lekas pulih.
Sekitar pukul tiga sore sesi diteruskan Hermansyah Yahya, yang menyampaikan materi tentang naskah-naskah lama Aceh, khususnya surat-menyurat antara sultan Aceh dan penguasa mancanegara, yang berisi cerita tentang rempah. Sesi dari Hermansyah selesai hampir pukul lima sore, tapi langit masih terang benderang.
Namun, yang pasti, sinyal sudah dari tadi menghilang, padahal daratan Pulau Sumatra masih terlihat meskipun nyaris hanya berupa garis tipis dan samar.
Selewat pukul 17.00 saya mandi, lalu menunaikan salat Asar dengan arah kiblat yang saya perkirakan masih sama dengan Zuhur jika dilihat dari posisi matahari.
Saya juga menyempatkan diri menulis sebentar sebelum makan sore. Kali ini lauknya ikan tongkol dan tahu. “Ikannya agak keras, ya?” kata salah satu anggota Laskar Rempah dengan suara pelan sambil menutup mulut.
Saat Magrib, yang dilanjutkan dengan Isya secara jamak-qosor seperti biasa dalam perjalanan di laut, saya salat bersebelahan dengan Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut Rhony Lutviadhani. Tapi, meski kami bersalaman, dia tidak mengenali saya karena suasana memang sudah temaram.
Malamnya, saya menulis lagi di lounge, bersama Yudhi dan Dian, tapi kami lebih banyak ngobrol dengan Jessika Nadya. Kami membicarakan berbagai kejadian yang dialami para anggota Laskar Rempah serta pernak-pernik lucu yang kami alami. Jadi, pendeknya, kami lebih banyak tertawa.
Akibatnya, saya hanya menulis jauh lebih sedikit daripada yang diharapkan.
Hari ini boleh dikatakan tidak ada peristiwa yang menonjol. Ada yang bilang kapal sedang melewati perairan Pangkalanbrandan, Sumatra Utara.
“Kalau sinyal hilang, berarti sudah mendekati Medan,” kata Petrik Matanasi.
Saya tertawa, teringat saat berangkat menuju Sabang dan melewati perairan Medan, sinyal internet memang hilang meskipun daratan terlihat jelas. “Itu keanehan yang perlu dicari penyebabnya,” kata Petrik.
Semoga besok sinyal internet kuat. Aamiin. (*)
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/MBJR-2024_Hari-ke-11.jpg)