Berita Viral

Sosok Petani Menangis di Mamuju yang Viral Gara-gara Harga Jagung Anjlok, Garap Lahan Orang Lain

Inilah sosok petani yang viral menangis di atas hamparan jagungnya karena harga anjlok.

Penulis: Rheina Sukmawati | Editor: Rheina Sukmawati
Tangkapan Layar
Video viral seorang petani menangis di atas hamparan jagung karena harga anjlok. Peristiwa ini terjadi di Mamuju, Sulawesi Barat. 

TRIBUNJABAR.ID - Inilah sosok petani yang viral menangis di atas hamparan jagungnya karena harga anjlok.

Salah satu video petani menangis itu dibagikan oleh akun X @daeng_info pada Selasa (14/5/2024).

"Petani jagung di Kalukku, Mamuju ini menangis histeris gara2 harga jagung anjlok dalam beberapa hari terakhir," tulis akun tersebut.

Dalam videonya, petani tersebut menangis histeris di atas hamparan biji jagung.

Ia pun mengacak-ngacak hamparan biji jagung tersebut.

Baca juga: Viral Petani Menangis Histeris di Atas Hamparan Jagung Hingga Susi Pudjiastuti Ikut Beri Respons

"Murah sekali harganya jagung, kenapa murah sekali harganya, tolong," ujar ibu itu histeris.

"Di mana aku mengadu ini?" katanya lagi.

Hingga artikel ini ditulis, Jumat (17/5/2024), video tersebut telah dilihat sebanyak 1,6 juta kali.

Bahkan, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turut merespon unggahan tersebut dengan memberikan emoji bersedih.

Lantas, siapakah sosok petani tersebut dan mengapa dirinya bisa sampai begitu histeris?

Sosok Petani

Dilansir dari Tribun-Sulbar, petani jagung dalam video viral tersebut bernama Mariwah (50) atau akrap disapa Sando Cinta.

Mariwah adalah warga Dusun Salukebatu, Desa Sondoang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Mariwah menjelaskan, ia begitu sedih karena modal tanam jagung dan hasil harga panen perbandingannya sangat jauh dari keuntungan yang ia dapatkan.

"Tidak kembali modal ka kasian, modal tanam ini sangat besar biayanya. Sementara harga jagung murah membuat kami ini sengsara," ujar Mariwah, Kamis (16/5/2024).

Adapun, Mariwah tidak menggarap lahannya sendiri.

Melainkan, Mariwah menggarap lahan milik orang lain yang kemudian berbagi hasil saat panen.

"Ini lahan bukan milik saya, tapi saya pinjam di orang lalu kalau panen bagi hasil," ungkap Mariwah.

"Tapi karena kondisi harga jagung murah ya mau bagaimana lagi, sudah pasti merugi," lanjutnya.

Baca juga: Longsor di Bandung Barat Berdampak Luas, 50 Hektare Sawah Tertimbun, Petani Terancam Gagal Panen

Karena itu, Mariwah berharap pemerintah bisa membantu petani dalam hal bantuan dan juga dapat mengendalikan harga yang saat ini sangat anjlok.

"Kami petani pasti mau harga jagung naik, biar kita dari petani jagung bisa merasakan hasil tani," pungkasnya.

Bulog Bantah Harga Jagung Naik

Sementara itu, Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita mengatakan, pihaknya terjun ke lapangan untuk mengecek kebenaran anjloknya harga jagung.

Namun, berdasarkan pengecekan, pihaknya tidak menemukan harga jagung anjlok di daerah tersebut.

"Bulog sudah ke sana tetapi ternyata tidak ditemukan jagung dengan harga segitu," ujar Febby, dikutip dari Kompas.com, Jumat (17/5/2024).

"Begitu berita viral Bulog langsung mengecek ke sana tetapi ternyata tidak ditemukan jagung dengan harga segitu (anjlok)," lanjutnya.

Lebih lanjut, Feby menjelaskan hasil panen petani yang menangis tersebut tidak banyak, namun hanya 20 kilogram.

"Di video (banyak) hamparan jagung tapi pas dicek hanya 20 kilogram," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, pemerintah sudah beberapa kali menaikan harga acuan pembelian (HAP) jagung dari Rp3.500 per kg, jadi Rp4.200 per kg, dan kini jadi Rp5.000 per kg.

Langkah itu dilakukan agar petani mendapatkan harga yang layak atas hasil produksi jagungnya.

Dia mengimbau kepada petani jagung jika harga jagung anjlok karena panen raya, langsung melaporkan hal ke pemerintah agar bisa diserap dengan harga yang sudah ditentukan.

"Karena memang selama 2 bulan ini jagung lagi panen-panennya sehingga ketika harga jatuh petani bisa segera melaporkan ke Bulog atau ke Bapanas agar bisa diserap. Jangan diviralkan," ungkapnya.

"Kalau ada seperti itu langsung kasih tahu lokasinya agar dicek, bukan diviralkan tapi langsung kasih tahu lokasi dimana supaya bisa kita serap," tegas Arief.

(Tribunjabar.id/Rheina) (Tribun-Sulbar.com/Abd Rahman) (Kompas.com/Elsa Catriana)

Baca berita Tribunjabar.id lainnya di Google News.

#BeritaViral

Sumber: Tribun sulbar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved