Sabtu, 25 April 2026

Bey Machmudin Kawal Pengiriman 16 Ton RDF dari TPST di Cimahi ke Pabrik Semen

Bey Machmudin ikut melepas pengiriman perdana 16 ton RDF terbuat dari sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong, Cimahi.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Giri
Tribun Jabar/Muhamad Syarif Abdussalam
Penjabat Gubernur Jabar, Bey Machmudin (kemeja putih), saat turut melepas pengiriman perdana 16 ton refused derived fuel (RDF) terbuat dari sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong, Kota Cimahi, ke PT Indocement di Kabupaten Bogor, Senin (22/4/2024). 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Penjabat Gubernur Jabar, Bey Machmudin, ikut mengantar pengiriman perdana 16 ton refused derived fuel (RDF) terbuat dari sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong, Kota Cimahi.

RDF sebanyak 16 ton tersebut dikirimkan ke PT Indocement, yang merupakan pabrik semen di Kabupaten Bogor.

Bey mengapresiasi karena tepat pada peringatan Hari Bumi Sedunia 22 April, Jabar dapat memberikan aksi nyata yang signifikan untuk menyelamatkan bumi.

"Hari ini pengelolaan sampah yang baik itu telah ditunjukkan oleh TPST Santiong, dan telah menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah dengan teknologi canggih dan pengolahan berkelanjutan," ujar Bey Machmudin, Senin (22/4/2024).

Menurut Bey, TPST Santiong Cimahi berhasil mengurangi ketergantungan terhadap TPA Sarimukti yang memang sudah melebihi kapasitas.

TPST Santiong merupakan infrastruktur pengolahan sampah di DAS Citarum kawasan Bandung Raya yang masuk program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP).

"TPST banyak tapi yang terpadu betul dan diolah sampai menjadi RDF baru TPST Sentiong yang pertama di Jawa Barat. Saya berharap hal ini dicontoh dan jadi penyemangat kabupaten dan kota lainnya," tambah Bey.

TPST Santiong dikembangkan dengan pendekatan ekonomi sirkular. Melalui RDF sampah dikonversi menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi. Sehingga pengolahan sampah di TPST Santiong terus berkelanjutan.

Baca juga: Tempat Pengolahan Sampah Bermesin RDF di Baleendah Bandung Terbakar, Atap Bangunan Penyok

RDF juga mendorong konsep green industry yang saat ini mulai banyak diterapkan oleh banyak pabrik di Indonesia.

Selain mengolah sampah plastik jadi RDF, TPST Santiong juga mengolah sampah organik menggunakan magot (magotisasi).

Magot yang dikembangbiakkan untuk mengurai sampah di TPST Santiong jenis black soldier fly, selain menjadi pupuk kompos, larva tersebut juga dapat dijadikan pakan ternak.

Bey Machmudin berupaya terus mencari rumusan terbaik terkait pengelolaan sampah agar bisa  bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Bey mengingat agar semua pihak tidak cepat berpuas diri dan tetap konsisten mengolah sampah secara mandiri. "Kita harus mengolah sampah dari hulu dari rumah, itu yang penting," ucapnya.

Penjabat Wali Kota Cimahi, Dicky Saromi, mengatakan, TPST Santiong punya kapasitas pengolahan sampah 50 ton per hari.

Namun di tahap awal, saat ini baru dicoba sekira 30 ton per hari dan akan dimaksimalkan menjadi 50 ton jika sudah ada kesesuaian pada kinerja mesin dan para pekerjanya.

"Kita harus bertahap, jadi sekarang 30 ton dulu," kata Dicky.

Baca juga: Tak Bergantung ke TPA Sarimukti, Pemkot Cimahi Siapkan RDF Plan Mampu Olah Sampah 50 ton per Hari

Jika sudah bisa maksimal menyerap sampah 50 per hari, tambah Dicky, maka secara signifikan TPST Santiong dapat mengurangi sampah di Cimahi yang jumlahnya mencapai 226 ton per hari.

Lebih lanjut Dicky juga segera mempertimbangkan penyerapan hasil RDF untuk beberapa industri yang berlokasi di Kota Cimahi agar kapasitas dan penyerapan hasil pengolahan bisa terakomodasi dengan baik.

"Ke depan kita harapkan Kota Cimahi bisa zero to TPA," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved