Kamis, 28 Mei 2026

Hikmah Ramadhan

Lailatul Qadar, I’tikaf dan Perubahan Perilaku

Semua orang bisa mendapatkan nilai lailatul qadar sepanjang dia mau mengamalkan tuntunan-tuntunan Al-Qur'an dalam kehidupannya.

Tayang:
Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Ustadz Rahmat Alamsyah M.Ag 

Oleh: Rahmat Alamsyah M.Ag, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

PADA sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan, umat Islam biasanya ramai melaksanakan ibadah i’tikaf di masjid. Tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai lailat al-qadr, yaitu kebaikan yang setara dengan kurang lebih seribu bulan. 

Kebaikan seperti apa yang dimaksud? Menurut Buya Hamka dalam bukunya, Tafsir Al-Azhar, yang juga merujuk pada pendapat-pendapat mufassir terdahulu, lalilat al-qadr adalah malam ketetapan, yaitu dimulainya garis pemisah antara kufur dan iman, jahiliyah dan Islam, serta syirik dan tauhid. Sedangkan menurut Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Misbah,  disebut lailat al-qadr adalah karena Al-Qur'an diturunkan sebagaimana ungkapan ayat pertama dalam surah Al-Qadr, ‘Sesungguhnya kami turunkan Al-Qur'an pada malam lailatul qadar, (Qs. 97: 1). 

Jika kata al-qadr dihubungkan dengan hadirnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia maka jelaslah apapun istilahnya, apakah itu malam kebaikan, kemuliaan ataupun ketetapan, adalah lebih karena Al-Qur'an-nya. Oleh karena itu semua orang bisa mendapatkan nilai  lailatul qadar sepanjang dia mau mengamalkan tuntunan-tuntunan Al-Qur'an dalam kehidupannya.

I’tikaf secara bahasa adalah ‘berdiam diri’, sedangkan secara istilah adalah ‘berdiam diri di dalam masjid untuk waktu tertentu niat beribadah karena Allah. Menurut madzhab Imam Syafi’i, hukum i’tikaf adalah sunnah muakkadah atau mustahab, artinya sangat dianjurkan. 

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban Nabi bersabda yang artinya, ‘Siapa saja yang ingin beri’tikaf bersamaku, makan i’tikaf-lah pada sepuluh malam terakhir’.  

Para ‘ulama berbeda pendapat terkait lama waktu i’tikaf. Bisa beberapa menit atau semalaman sampai subuh, yang jelas melaksanakan berbagai kegiatan ibadah seperti, salat tarawih, membaca Al-Qur'an, berdoa dan berzikir atau belajar agama. Dalam kaitan hal tersebut i’tikaf merupakan ikhtiar manusia untuk mendapatkan rida, rahmat dan petunjuk Allah SWT.

Kapan nilai lailat al-qadr itu turun menghampiri kita dan seperti apa ciri-ciri orang yang mendapatkannya? Di sinilah rahasianya. Para ulama berbeda pendapat, tidak ada yang tahu persis kapan waktunya, yang jelas malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan

Menurut Ibnu Qayyim Al-jauziy, indikator seseorang mendapatkan nilai lailat al-qadr adalah adanya perubahan perilaku. Ia menyebutkan lima perubahan mendasar. Pertama, seseorang berubah dari ragu menjadi yakin dalam keimanannya. Kedua, berubah dari bodoh menjadi berilmu. Ketiga, berubah dari lalai menjadi mengingat Allah. Keempat, berubah dari khianat menjadi amanah dalam setiap urusannya. Kelima, berubah dari riya menjadi ikhlas dalam segala amal dan ibadahnya. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved