Pemprov Jabar dan Kemenkes Siapkan NS1 dan Gencarkan 3M Plus untuk Tangani Kasus DBD

Adapun 3M plus yang dimaksud adalah menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang

istimewa
Penjabat Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Barat terus bertambah. Sampai 25 Maret 2024, tercatat ada 11.729 kasus DBD di Jabar, sebanyak 105 orang di antaranya meninggal dunia.

Peningkatan kasus DBD di Jabar ini mendorong Penjabat Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin menggelar rapat koordinasi penanggulangan DBD bersama empat kota dan kabupaten di Jabar beserta Kementerian Kesehatan RI.

Empat daerah yang mengalami peningkatan kasus DBD cukup tinggi adalah Kabupaten Subang, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Bogor.

Baca juga: Ruang Rawat Inap Rumah Sakit di Bandung Barat Penuh Setelah DBD Merebak, 71 Orang Masih Dirawat

"Kami masih berusaha menekan kasus penyebarannya, peningkatannya, dengan lebih masif lagi melalui gerakan untuk melakukan PSN, Pemberantasan Sarang Nyamuk, dan 3M plus," kata Bey seusai rapat tersebut.

Adapun 3M plus yang dimaksud adalah menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia. 

Selain 3M, yang dimaksud pada poin Plus antara lain menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk, memeriksa tempat-tempat yang digunakan untuk penampungan air, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi yang ada di rumah.

Kemudian melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama, meletakkan pakaian yang telah digunakan dalam wadah yang tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang susah untuk dikuras, dan memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar

"Saya akan meminta seluruh kepala daerah, wali kota dan bupati, untuk lebih turun ke lapangan untuk bersama sama masyarakat melakukan gerakan pembersihan sarang nyamuk. Kesiapan kesehatan juga disiapkan NS1, itu alat yang dapat mengetahui secara cepat apakah seseorang itu DBD atau tidak," katanya.

Bey mengatakan yang ditekankan adalah bagaimana menekan kematian dan juga menekan kasus.

Baca juga: Kasus DBD di Ciamis Kian Merebak pada Maret 2024, Total 355 Kasus, Ada Penderita yang Meninggal

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, mengatakan nyamuk wolbachia yang sebelumnya disebar di Ujungberung, Kota Bandung, berfungsi  untuk mencegah penularan.

"Sekarang yang di nasional kan ada lima kota, Bontang, Kupang, kemudian Semarang, Jakarta Barat, sama Bandung. Bandung kan baru di satu kelurahan, nah ini memang kemarin kita diskusi bersama Pj Wali Kota Bandung juga kita lihat dulu, kalau memang bagus, kita kembangkan," katanya.

Pengembangan wolbachia, katanya, lebih ke arah kesiapan telurnya karena pabrik telurnya baru ada di tiga lokasi.

Pabrik yang siap ada duabyakni di Yogyakarta dan Salatiga, yang satu lagi sedang dipersiapkan yaitu di Bali.

"DBD Jabar jadi utama, kita diundang langsung datang dan sudah mengalokasikan beberapa logistik yang penting seperti tadi yang Pak Pj Gubernur sampaikan ada NS1 itu kita siapkan cukup banyak untuk di Jabar karena memang penduduk Jabar paling banyak dan resikonya di Jabar itu termasuk yang tinggi, jadi memang harus kita mitigasi juga," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved