Kamis, 9 April 2026

Indonesia Kaya Bahan Alam, Tapi Belum Diolah Maksimal Jadi Obat Herbal

Belum banyak pelaku industri berkecimpung pada sektor ini, sehingga ketersediaan berbagai macam obat belum bisa terpenuhi.

Tribun Jabar/ Nazmi Abdurrahman
Ketua STFI, Adang Firmansyah, (pake jas abu) Anwar Wahyudi, Farmalkes Kemenkes RI (batik coklat) dan Prof. I Ketut Adnyana, (batik ungu) wakil ketua bidang Riset dan Kerjasama Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia saat diwawancarai di The Paviliun Hotel, Jalan Riau, Kota Bandung. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Indonesia kaya akan bahan alam yang dapat dimanfaatkan menjadi obat herbal, menggantikan obat konvensional atau bahan dasar kimia.

Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Riset dan Kerjasama Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia, Prof. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D, saat Focus Group Discussion Kolaborasi Riset yang digelar Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI) bersama Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) di De Paviljoen Hotel Bandung, Minggu (25/2/2024).

Prof. I Ketut Adnyana mengatakan, belum banyak pelaku industri farmasi yang memaksimalkan bahan alam Indonesia menjadi obat. Padahal, salah satu ketahanan farmasi adalah dari ketersediaan obat-obatan.

"Secara faktual kita sudah tidak asing dengan obat alam. Di Indonesia ini ada jamu, godokan, seduhan, dan lainnya. Jadi, secara historis sudah panjang dan memang bisa menggunakannya," ujar Ketut.

Baca juga: Jual Rokok Herbal Disebut Bisnis Barang Haram, Ustadz Solmed Jelaskan Hukum Rokok Tuai Kontroversi

Penggunaan obat alam sebagai resep dokter pun, kata dia, masih sangat minim. Sebab, belum banyak pelaku industri berkecimpung pada sektor ini, sehingga ketersediaan berbagai macam obat belum bisa terpenuhi.

"Harus ada sistem yang lebih baik dari mulai penelitian, pembuatan, pengawasan, hingga penggunaan oleh masyarakat. Semua harus dibuat sistematis dan mengikuti perkembangan medis secara global," katanya.

Selain itu, kata dia, perlindungan hak cipta pada pengembangan obat alam pun masih belum rinci. Padahal, untuk membuat obat alam investasinya bisa jadi lebih mahal karena bergantung pada kondisi alam.

"Hal itu juga yang membuat hanya segelintir pihak mau berinvestasi pada produksi obat herbal," ucapnya.

Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Kemenkes RI, apt. Anwar Wahyudi, S.E., S.Farn., MKM. menjelaskan bahwa penggunaan obat kimia sekarang memang mendominasi dibandingkan obat berbahan dasar alami.

Padahal, banyaknya obar herbal dari Indonesia yang bisa dikonsumsi dan sudah terbukti kekhasiatannya, maka dokter seharusnya bisa memberikan rujukan pada pemakain obat tersebut.

"Ini yang harus kita dorong bersama agar kekuatan farmasi Indonesia pun makin kuat," ujar Anwar.

Anwar mendorong agar layanan kesehatan harus mulai memasukan obat herbal pada pilihan obat untuk pasien yang sakit. Artinya, dokter harus berani memberikan obat herbal yang memang sudah teruji, tidak hanya memanfaatkan obat berbahan dasar kimia.

Baca juga: Rempah-rempah Indonesia Kian Mendunia, Kini Jadi Sumber Devisa Negara, Ekspor untuk Bumbu & Herbal

"Karena kalau obat-obat herbal yang sedikit dipakai, maka industri juga ga akan mau masuk. Mereka ngapain masuk kalau tidak menguntungkan kan," katanya.

Ketua STFI Adang Firmansyah menambahkan, kampus farmasi, industri, dan pemerintah harus berkolaborasi menggarap kemandirian farmasi, khususnya dalam pemenuhan obat herbal untuk masyarakat.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved