Breaking News

Pilpres 2024

Perbedaan antara Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Joko Widodo Menurut Politikus PDI-P Ini

Hasto Kristiyanto menilai, langkah Prabowo Subianto sangat berbanding terbalik dengan capres nomor urut 2 Ganjar Pranowo yang diusung partainya.

Editor: Hermawan Aksan
eki yulianto/tribun jabar
Ganjar Pranowo saat menghadiri kuliah kebangsaan di Kampus Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) pada Jumat (8/12/2023) sore. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-P Hasto Kristiyanto menilai, langkah Prabowo Subianto sangat berbanding terbalik dengan Ganjar Pranowo yang diusung partainya. 

TRIBUNJABAR.ID - Calon presiden (capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto, sulit melakukan blusukan menemui langsung masyarakat.

Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-P Hasto Kristiyanto.

Hasto menilai, langkah Prabowo sangat berbanding terbalik dengan capres nomor urut 2 Ganjar Pranowo yang diusung partainya.

Menurut Hasto, Ganjar dan istrinya, Siti Atikoh Supriyanti, rajin menemui masyarakat di akar rumput dan mendengar langsung keluh kesah mereka.

"Pak Ganjar berbeda dengan Pak Prabowo. Pak Ganjar blusukan, Pak Prabowo sulit blusukan," ujar Hasto saat ditemui awak media di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Pacitan, Jawa Timur, Rabu (20/12/2023).

Politikus senior PDI-P itu lantas melihat adanya perbedaan yang kentara antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pada kesempatan sebelumnya, Hasto bahkan menyebut bahwa Prabowo sebagai antitesis Jokowi karena menambah utang negara untuk belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) di tengah masyarakat yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

"Pak Ganjar melanjutkan kebijakan-kebijakan yang baik dengan Pak Jokowi bahkan dipercepat, disempurnakan. Pak Prabowo bukan Jokowi," kata Hasto.

Baca juga: Jelang Debat Cawapres, Ganjar Pranowo Yakin Mahfud MD Tuntaskan Regulasi Hukum Investor Masuk RI

Hasto kemudian mengatakan, PDI-P mendorong terbentuknya gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.

Salah satunya terwujud melalui blusukan.

Selain itu, menurutnya, Ganjar juga dididik untuk menyelesaikan persoalan dengan cepat dan efektif sehingga waktu 13 tahun bonus demografi Indonesia yang tersisa bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Hasto juga menyoroti soal penyelesaian berbagai persoalan secara cepat juga dibarengi dengan keadilan hukum.

Keberadaan Mahfud MD yang mendampingi Ganjar dinilai mampu menciptakan keadilan tersebut.

"Diperlukan suatu pemerintahan yang kokoh di dalam hukum itu Pak Mahfud sebagai pendekar keadilan pembela wong cilik," ujar Hasto. (*)

Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved