Nyamuk Wolbachia di Bandung

Apa Sebenarnya Nyamuk Wolbachia yang Jadi Pro-Kontra? Bisa Perpendek Umur Nyamuk hingga 50 Persen

Kehadiran nyamuk wolbachia ini pun terdengar begitu asing di masyarakat sehingga membuat masyarakat khawatir karena banyak pro dan kontra yang beredar

Melinda Gates/ Facebook
Melinda Gates melihat cara kerja bakteri Wolbachia lewat mikroskop 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelepasan nyamuk wolbachia yang disebut bisa untuk menangani kasus demam berdarah dengue (DBD) ramai menjadi perbincangan masyarakat.

Kehadiran nyamuk wolbachia ini pun terdengar begitu asing di masyarakat sehingga membuat masyarakat khawatir karena banyak pro dan kontra yang beredar.

Dalam program Tribun Health, Dosen Universitas Santo Borromeus, Yura Witsqa Firmansyah, S.KM., M.Kes menjelaskan akan apa itu nyamuk wolbachia.

"Wolbachia adalah bakteri yang memang hidupnya secara alami ada di serangga, ada di kecoa, lalat. Keberadaan bakteri ini 65 persen ada di dalam tubuh serangga dan tidak mengganggu hidup serangga," ujar Yura di Studio Tribun Jabar, Kamis (23/11/2023).

Sementara itu, Yura mengatakan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue.

Baca juga: Penjabat Gubernur Jabar Yakin Nyamuk Wolbachia Aman, Sudah Diuji Coba Kemenkes

Virus ini tidak bisa masuk ke dalam tubuh manusia secara langsung, harus ada faktor pembawa sehingga virus bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Fakrtor tersebut adalah melalui nyamuk jenis aedes aegypti.

Lantas bagaimana wolbachia ini bisa berada di dalam tubuh nyamuk aedes aegypti?

"Prosesnya adalah diambil di bakteri dulu yaitu dari tubuh serangga, bukan diinjeksi ke nyamuk hidup, tetapi diinjeksikan ke telur aedes aegypti yang belum menetas. Lalu setelah berkembang maka jadilah nyamuk aedes aegypti wolbachia yang akan berkembang ke lingkungan," tuturnya.

Dalam proses tersebut, Yura menjelaskan, nyamuk dewasa nanti akan lahir betina dan jantan dan akan memperpendek usianya sebanyak 50 persen.

Di versi Kemenkes, nyamuk wolbachia bisa menekan virus dengue yang ada di dalam nyamuk aedes aegypti.

"Saya juga baca penelitian lain bahwa si bakteri ini bukan membunuh atau menekan perkembangan dari virus, tapi memperpendek usia nyamuknya. Misalnya aedes aegypti betina masa hidupnya itu 42- 56 hari ketika ada wolbachia di dalamnya maka hidupnya berkurang 50 persen. Sama halnya dengan nyamuk jantan yang hidupnya 10 hari dan nyamuk wolbachia hanya bertahan 5 hari," tuturnya.

Yura pun menjelaskan, nyamuk betina wolbachia yang kawin dengan nyamuk jantan di lingkungan maka telurnya akan menjadi berwolbachia.

Berbeda halnya dengan nyamuk jantan wolbachia, ketika kawin dengan nyamuk betina lingkungan, telurnya tidak akan menjadi wolbachia.

"Namun masa hidupnya sama akan berkurang 50 persen yang akan diwariskan pada genetiknya. Yang perlu diteliti kembali adalah ekosistem nyamuk tentu akan berpengaruh karena nyamuk merupakan rantai makanan," ucapnya.

Baca juga: Penjabat Gubernur Jabar Yakin Nyamuk Wolbachia Aman, Sudah Diuji Coba Kemenkes

Meskipun nyamuk wolbachia sudah tidak bisa menularkan DBD pada manusia, namun Yura menyebutkan bukan berarti merasa santai tidak ada lagi DBD.

"Ini bukan jadi upaya utama untuk cegah DBD, kita harus tetap perhatikan kondisi lingkungan kita. Harus ingat nyamuk hidupnya dimana, karena mereka bisa berkembang di tempat bersih," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved