Kamis, 7 Mei 2026

Jangan Anggap Sepele Nyeri pada Rahang, Berikut Penjelasannya!

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nyeri rahang kerap disepelekan. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai agar tidak terindikasi penyakit lain.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: bisnistribunjabar
Istimewa
Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS dokter dari Santosa Hospital Bandung Central 

Laporan Wartawan TribunJabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nyeri rahang kerap disepelekan. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai agar tidak terindikasi penyakit lain.

Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS dokter dari Santosa Hospital Bandung Central mengatakan, nyeri rahang terabaikan, karena dengan pasien istirahat sejenak nyeri tersebut akan hilang.

Namun, nyeri rahang akan muncul kembali bila kebiasaan pemicu nyeri masih terus dilakukan.

2 Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS dokter dari Santosa Hospital Bandung Central
Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS

"Nyeri rahang mirip dengan nyeri kepala, biasanya pasien akan mengkonsumsi obat yang dijual secara bebas," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (4/11/2023) petang.

"Bila tidak dikonsultasikan kepada dokter gigi, nyerinya akan datang kembali," tuturnya.

Drg. Lena menuturkan, nyeri rahang diakibatkan karena adanya ketidakseimbangan otot disekitar sendi rahang atau penyakit degeneratif lainnya.

"Kegiatan mengunyah, berbicara, menguap, bernyanyi bisa berlangsung dengan baik karena adanya sendi rahang yang disebut temporomandibular joint," ujarnya.

Namun, nyeri dimulai dari yang paling ringan, seperti rasa pegal di area pipi saat mengunyah makanan alot.

"Berlanjut nyeri di area pelipis dan depan telinga, nyeri bisa menjalar ke otor leher bahkan pundak," katanya.

Saat menguap atau membuka mulut besar kesulitan atau bahkan tidak dapat menutup mulut kembali.

"Terdengar bunyi saat berbicara adalah salah satu ciri-ciri terjadinya gangguan sendi rahang yang jika tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan nyeri rahang berkepanjangan," ungkapnya.

Drg. Lena mengatakan, mencari penyebab utama nyeri rahang menjadi hal yang perlu diputuskan dengan baik oleh seorang dokter gigi.

"Kebiasaan buruk seperti mengunyah makanan 1 sisi, tidur dalam waktu lama 1 sisi, menopang dagu, menggigit kuku," tuturnya.

Kendati demikian, nyeri rahang bila segera diatasi, keluhannya bisa membaik atau menghilang.

"Bila dibiarkan akan timbul kelainan lain pada rahang, saat berbicara atau mengunyah," ucapnya.

Mengatasi nyeri rahang ada beberapa teknik yang dapat dilakukan oleh dokter gigi kepada pasien.

"Biasanya yang paling umum dilakukan adalah mengistirahatkan rahang pasien. Artinya, jika pasien terakhir kali mengatakan terkena nyeri rahang akibat mengunyah makanan keras atau alot, berarti pasien disarankan untuk memakan makanan lunak terlebih dahulu," jelas Drg. Lena.

Namun, bila nyeri rahang dikeluhkan oleh pasien setelah mengalami kesulitan menutup mulut akibat menguap atau membuka mulut terlalu besar, maka disarankan untuk melakukan perawatan rahang dengan splint oklusal pada gigi.

"Menggunakan alat tersebut diharapkan rahang bisa lebih rileks," ucapnya.

Tak hanya itu, perawatan bagi penderita rahang gigi dapat melakukan fisioterapi berupa sinar penghangat atau teknik pemijatan.

"Jika nyeri berlanjut, biasanya pasien dikombinasikan dengan prioterapi sinar penghangat teknik relaksasi," kata Drg. Lena.

Ia menuturkan, dokter gigi akan merekomendasikan beberapa obat pereda nyeri yang dikonsumsi pasien selama beberapa waktu.

"Inti dari sinar penghangat itu untuk merelaksasi otot-otot yang menjadi penyebab nyeri rahangnya," katanya.

Sebab, bila nyeri rahang diabaikan akan timbul keadaan nyeri yang lebih luas.

"Misalnya, pasien akan merasakan nyeri di leher, pundak atau nyeri alih sampai ujung kaki atau tangan," paparnya.

Nyeri rahang ini berhubungan dengan sendi, bila diabaikan akan muncul radang sendi.

"Radang sendi menyebabkan kelainan pada profile muka," ujarnya.

Perubahan profile muka akibat rahang sendi, karena sisi sendinya yang meradang akan menyebabkan perubahan tulang sekitar wajah.

"Sehingga bagian sisi lain bertambah miring atau bertambah panjang di satu sisi," imbuhnya.

Bahkan, akan mempengaruhi profile tubuh seperti pundak akibat nyeri sendi yang diderita.

"Sendi rahang ini akan mempengaruhi secara keseluruhan profile tubuh. Sebab, sendi berhubungan satu sama lain," ucapnya.

"Saat berbicara atu mengunyah akan terdengar bunyi 'klik' di sekitar telinga. Menjadi ciri bila pasien mengalami kelainan sendi," ujarnya.

"Setelah mengkonsumsi obat nyeri yang dijual bebas akan mereda. Namun, bunyi 'klik' tersebut tidak akan pernah hilang dan nyerinya mungkin hilang akibat obat pereda nyeri," ucapnya.

Bunyi 'klik' tersebut dapat didengar oleh penderita, bahkan orang lain.

Nyeri rahang yang diobati dan dicari penyebabnya akan mempercepat hilangnya nyeri pada rahang.

"Biasanya pasien yang datang ke dokter gigi dengan keluhan nyeri rahang, seperti tidak bisa membuka mulut untuk mengunyah makanan akan dipakaikan alat khusus," jelasnya.

Sehingga dalam waktu 30 menit, pasien dapat membuka mulutnya lebih besar untuk mengunyah.

"Keluhan pasien bisa membuka mulut, tapi tidak bisa memasukan makanan," ucapnya.

Perawatan tersebut, katanya, harus dilanjutkan dan kontrol ke dokter gigi.

"Penyebab paling umum dari rahang ini biasanya mengunyah satu sisi akibat ada satu gigi yang hilang di sisi lainnya. Sehingga pasien mengunyah menggunakan sisi lain, sering tidak disadari karena belum ada keluhan, jika diteruskan akan muncul keluhan tersebut," jelasnya.

Drg. Lena menambahkan, agar dapat mengatisipasi nyeri rahang, pastikan keadaan gigi, rongga mulut dalam keadaan baik dengan kontrol ke dokter gigi dan mulut setiap 6 bulan sekali.

Sebagi informasi, untuk layanan ke dokter gigi Santosa Hospital Bandung Central dapat dilakukan konsultasi dan pemeriksaan oleh Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS pada hari Senin-Jumat pukul 13.00-16.00 WIB dan hari Sabtu pukul 09.00-13.00 WIB. 

3 Drg. Lena Lia Napitupulu, MMRS dokter dari Santosa Hospital Bandung Central
Santosa Hospital Bandung Central
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved