Rupiah Terus Melemah Terhadap Dolar, Indeks Harga Saham Tertekan, Baru Akan Stabil Setelah Pemilu
pada musim politik, di industri perbankan akan banyak penarikan uang tunai meski tidak membahayakan cash flow perbankan
Penulis: Nappisah | Editor: Adityas Annas Azhari
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi 0,69 persen menyentuh angka Rp 15.935.
Dosen Manajemen Investasi dan Pembina Galery Investasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Langlangbuana Bandung, Asep Saepudin, mengatakan, dampak nilai rupiah di tahun politik disinyalir akan melemah.
"Sampai akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sepertinya akan mengalami tekanan," ujar Asep Saepudin, kepada Tribunjabar.id, Selasa (24/10).
Ia memaparkan, rupiah bahkan bisa menyentuh Rp 16.000 per dolar AS. Menurutnya, IHSG akan sulit melewati angka 7000.
Sebagai informasi, pada Selasa (24/10), IHSG ke level 6.806,7 menguat 64 poin atau 0,96 persen. Pelemahan rupiah pun buntut dari kondisi global, yakni tingginya inflasi di Amerika Serikat.
Baca juga: Harga Barang-barang Impor Bakal Naik, Rupiah Semakin Melemah, Sekarang 1 Dolar AS Dekati Rp 16.000
"Namun biasanya selepas Pileg dan Pilpres, rupiah dan IHSG akan kembali stabil," ucapnya.
Asep mengatakan, pada musim politik, di industri perbankan akan banyak penarikan uang tunai meski tidak membahayakan cash flow perbankan. Permintaan sektor riil juga diprediksi akan meningkat.
Baca juga: TikTok Umumkan Investasi Jutaan Dolar AS untuk Dukung UMKM di Asia Tenggara
"Permintaan sektor biasanya akan meningkat, terutama untuk barang-barang konsumsi. Biasanya ada semacam pemberian ke masyarakat dari para calon legislator atau partai politik, untuk membujuk supaya dipilih," jelasnya.
Asep menghimbau, perbankan harus mewaspadai penarikan dengan cara meningkatnya cash holding. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/money-changer-tempat-penukaran-uang-dolar-rupiah_20180905_184626.jpg)