Cuaca Buruk, Nelayan di Cianjur Selatan Terpaksa Beralih Profesi, Penghasilan Pun Lebih Kecil
Nelayan di sepanjang pesisir pantai Cianjur selatan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa beralih profesi dan tidak melaut akibat cuaca buruk.
Penulis: Fauzi Noviandi | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Kontributor Tribunjabar Kabupaten Cianjur, Fauzi Noviandi
TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Nelayan di sepanjang pesisir pantai Cianjur selatan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa harus beralih profesi dan tidak melaut, akibat cuaca buruk.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik (BMKG) ketinggian gelombang ombak di pesisir pantai Cianjur mencapai 1 meter hingga 3 meter.
Rusmana (30), seorang nelayan di Pantai Apra, Desa Saganten, Kecamatan Sindangbarang, mengungkapkan, semenjak terjadinya cuaca buruk dan gelombang tinggi nelayan sudah tidak melaut selama tiga minggu.
"Gelombang tinggi sudah mulai terjadi pada awal Agustus dan ketinggian gelombang ombak pun mencapai satu hingga tiga meter," ucapnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (25/8/2023).
Akibat cuaca buruk tersebut, kata dia, nelayan di Pantai Apra terpaksa tidak melaut untuk sementara karena khawatir tersapu gelombang tinggi yang bisa mengancam nyawa.
"Selama terjadinya gelombang tinggi itu beberapa nelayan dan saya sementara ada yang beralih profesi menjadi buruh serabutan seperti kuli bangunan dan lainnya," ucapnya.
Menurutnya, penghasilan sebagai buruh serabutan dan kuli bangunan mencapai Rp 120 ribu per hari, sedangkan penghasilan nelayan sebesar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per minggu.
"Kalau nelayan yang sudah tidak memiliki kemampuan lain masih tetap melaut, tapi itu juga tidak lama, paling dua hingga empat jam dan kembali ke darat."
"Tangkapan ikan pun jadi tak sebanding dengan modal," ucapnya. (*)
