Jelang Agustusan, Penjual Bendera Asal Garut Berdatangan ke Bandung, Ada yang Berjualan Sejak SD
Sejumlah penjual bendera asal Garut, Jawa Barat, mencoba mengadu nasib dengan berjualan di Kota Bandung menjelang peringatan ke-78 tahun kemerdekaan.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Januar Pribadi Hamel
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah penjual bendera asal Garut, Jawa Barat, mencoba mengadu nasib dengan berjualan di Kota Bandung menjelang peringatan ke-78 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Salah seorang penjual bendera di Jalan Supratman, tepatnya sekitaran Kantor Dinas Kesehatan Kota Bandung, Hardian (43) menuturkan bahwa dia mulai berjualan bendera per 28 Juli 2023 dan kondisinya masih belum ramai yang membeli, meski ada satu dua orang yang membeli per harinya.
"Sejak Jumat lalu, ya baru enam potong (bendera) yang terjual. Saya biasanya sebelum Covid itu berjualan bendera dimulai 21 Juli sampai 1 Agustus bisa terjual satu kodi, tapi sekarang masih minim. Ya mau bagaimana lagi, mau tak mau harus dijalani," ujarnya, Selasa (1/8/2023) di lokasi.
Baca juga: Penjual Bendera Mulai Marak di Kota Bandung, tak Pernah Diobrak-abrik Satpol PP, Ini Alasannya
Hardian mengaku dia berjualan bendera ini sejak SMP dan ikut dengan orang tuanya. Dahulu, katanya, tempat berjualan di Jalan Diponogoro tepatnya depan Geologi. Namun, karena kawasan itu dilarang sehingga beralih ke wilayah Supratman.
"Saya asli Leles, Garut. Ya mayoritas yang berjualan bendera ini dari Garut. Sehari-hari ya tinggal di jalanan seperti ini, tapi terkadang kalau perlu ke toilet, salat, atau meminta air hangat saya coba meminta ke kantor dinkes. Alhamdulillah orang-orang di Dinkes baik," katanya.
Ketika selain menjelang Agustusan, Hardian mengaku bekerja, sedangkan menjelang Agustusan dia meminta izin untuk beralih dahulu untuk berjualan bendera.
"Ya sebenarnya bukan karena faktor ekonomi (jualan bendera), tapi karena memang hati merasa tergugah untuk berjualan bendera. Masalah untung mah ya kadang untung, pas, atau lainnya. Yang pasti daya semangat harus terjaga meski terkadang tidur di pinggir jalan, kehujanan, kepanasan, tapi ya harus dijalani. Kalau mau enak mah ya enggak usah berjualan," katanya.
Hardian menyebut bendera yang dijual mulai termurah Rp 15 ribu, yakni umbul-umbul, sampai paling mahal Rp 650 ribu background yang biasa untuk perkantoran.
Pedagang bendera lainnya, Rahmat (47) warga Garut menyampaikan saat ini penjualan bendera menjelang Agustusan masih sepi, meski ada saja yang membelinya. Dia menjual mulai background, umbul-umbul, bandir, sampai bendera kecil, juga bambu di pinggiran Jalan Supratman.
Adapun harganya mulai Rp 25 ribu sampai Rp 250 ribu. Rahmat mengatakan, biasanya menjelang 6 Agustus dan 7 Agustus pembeli bendera itu ramai. Tetapi, untuk saat ini dia belum bisa memprediksinya.
"Yang banyak dibeli itu bendera dan umbul-umbul. Kalau perkantoran memakai background. Alhamdulillah saya jualan bendera sejak 1995, pernah berjualan di Jateng, Jatim, Kalimantan, Sulawesi, dan sekarang Bandung," katanya.
Dia melihat penjualan bendera cukup lumayan ramai dibanding wilayah lainnya ditambah lagi jarak dari Garut ke Bandung cukuplah dekat. Dia pun mengaku tanggung bila harus mengontrak kontrakan untuk tempat tinggal, lantaran berjualan hanya dua pekan.
"Jadi, saya pasang tenda saja. Ya intinya mah perjuanganlah demi memeriahkan Agustusan atau kemerdekaan. Saya pun merasa ada kebanggaan dalam menjual bendera. Kalau enggak berjualan seperti basi aja gitu. Jadi, sudah seperti kewajiban. Biasanya saya berjualan sampai 16 Agustus," katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rahmat-47-salah-seorang-penjual-bendera-asal-garut-jawa-barat.jpg)