Penonton Karnaval di Sumedang Meninggal

Monumen Lingga di Alun-alun Sumedang Dinaiki Penonton Karnaval, Kerajaan Sumedang Larang Meradang

Monumen Lingga yang dibangun pada tahun 1921 sebagai upaya untuk mengenang jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja diinjak-injak pengunjung karnaval

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Januar Pribadi Hamel
Istw/ warga
Sejumlah anak-anak nekat menaiki monumen Lingga saat menonton karnaval yang digelar stasiun televisi swasta di Alun-alun Sumedang, Minggu (11/6/2023). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Kiki Andriana dari Sumedang

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Monumen Lingga yang dibangun pada tahun 1921 sebagai upaya untuk mengenang jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja diinjak-injak pengunjung karnaval yang digelar pada Sabtu-Minggu (10-11/6/2023).

Hal ini disayangkan Kerajaan Karaton Sumedang Larang. Hal demikian, semestinya tidak terjadi jika penjagaan begitu detail hingga kepada penjagaan cagar budaya.

"Karaton Sumedang Larang memang prihatin dan ini harus jadi momentum ke depan untuk perbaikan bersama,"

"Bagaimanapun, Alun-alun dengan monumen Lingga di area tersebut adalah tanggung jawab bersama, ke depan harus ada solusi terbaik, antisipatif," kata Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Raden Lucky Johari Soemawilaga, kepada TribunJabar.id, Rabu (14/6/2023).

Beredar di media sosial foto-foto yang menggambarkan monumen Lingga dinaiki pengunjung yang rata-rata adalah anak-anak. Mereka naik ke area Lingga hingga duduk di atasnya.

Menurut Lucky, hal itu terjadi pada hari Sabtu atau hari pertama karnaval dilaksanakan. Malam hari, ada rapat terbatas menyikapi hal tersebut yang membuat Karaton Sumedang Larang menyampaikan intervensi kepada panitia karnaval agar menyediakan pembatas ke area Lingga.

"Maka pada hari kedua dipasanglah pagar. Hari kedua ini relatif lebih aman. Yang kami sayangkan juga, ketika Lingga dinaiki, kok seperti tidak ada yang mengawasi, padahal ketika itu banyak pelaku budaya yang mengerti sejarah Lingga ada di sekitar area karnaval," katanya.

Lucky mengatakan, pihaknya pada jauh-jauh hari telah menawarkan kepada panitia agar urusan cagar budaya, pengamanannya diserahkan kepada tim pengamanan budaya Karaton Sumedang Larang.

Namun, hal itu ditolak karena panitia mengklaim sudah bisa mengatasi soal pengamanan tersebut.

"Sebelum hari H memang kami tak bisa ikut campur lebih jauh, kami menawarkan PAM Budaya kami, ditolak dengan alasan sudah bisa handle," kata Lucky. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved