Kisah Legenda Kawasan Citameng dan Sawah Lega di Garut, Puluhan Tahun Jadi Tempat Ngabuburit Favorit

Kawasan Sawah Lega dan Jembatan Citameng di Garut menjadi salah satu tempat favorit untuk menghabiskan waktu jelang berbuka puasa atau ngabuburit.

|
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/SIDQI AL GHIFARI
Kawasan Citameng, Desa Maripari, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat di waktu ngabuburit bulan Ramadhan, Jumat (24/3/2023). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kawasan Sawah Lega dan Jembatan Citameng di Garut menjadi salah satu tempat favorit untuk menghabiskan waktu jelang berbuka puasa atau ngabuburit.

Kawasan tersebut berlokasi di Desa Maripari, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sawah Lega merupakan sebutan dari kawasan hamparan ladang padi yang membentang dari Kecamatan Sukawening hingga Kecamatan Wanaraja.

Diantara hamparan sawah itu dilintasi jalan penghubung antara Wanaraja dan Cibatu, disebut dengan Jalan Sawah Lega.

Jalan Sawah Lega memiliki panjang 2 KM diapit oleh pemandangan indah hamparan ladang padi, sudah sejak lama kawasan tersebut menjadi kawasan yang ramai dikunjungi warga.

Salah satunya di Bulan Suci Ramadhan, warga kerap menghabiskan waktu atau ngabuburit di kawasan tersebut.

Iklima Aulia (33) warga Desa Maripari, mengatakan, aktivitas warga dalam menikmati pemandangan indah di kawasan Sawah Lega sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Baca juga: Ini 7 Tempat Ngabuburit di Sukabumi yang Kerap Dikunjungi Warga, Termasuk Alun-alun Kota

"Di hari Minggu pagi khususnya, pasti warga memadati Jalan Sawah Lega, untuk olahraga, ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak saya sekolah dasar juga aktivitas itu sudah ada," ujarnya kepada Tribunjabar.id, Jumat (24/3/2023).

Ia menuturkan, setelah reaktivasi rel kereta api Cibatu-Garut, kawasan tersebut semakin ramai, pasalnya terdapat ruas jalan yang dilintasi rel tersebut, yakni kawasan Citameng, Desa Maripari.

Terdapat sebuah jembatan rel kereta yang jadi legenda di kawasan itu.

Disebut dengan Jembatan Citameng, dibawahnya mengalir Sungai Citameng yang bermuara ke Sungai Cimanuk di kawasan Banyuresmi.

Bagi masyarakat Garut, nama Citameng sempat terkenal pada masanya, itu karena, nama Citameng masuk dalam Pupuh Sunda Balakbak.

Berikut penggalan bunyi pupuh tersebut:
Aya warung sisi jalan ramé pisan, Citaméng
Awéwéna luas-luis geulis pisan, ngagoréng
Lalakina..lalakina los ka pipir nyoo monyét, nyanggéréng.

Jembatan Citameng merupakan ujung dari hamparan ladang padi Sawah Lega, keduanya tidak bisa dipisahkan lantaran jadi tempat favorit para pengunjung.

Pengunjung biasanya ngabuburit di kawasan Sawah Lega, menjelang waktu berbuka mereka berbondong-bondong mendatangi lokasi Jembatan Citameng.

Baca juga: Ini Sejumlah Pilihan Tempat Ngabuburit di Pangandaran, Ada Jalan Baru Lintas Pesisir Pantai

Di kawasan jembatan tersebut, sejumlah pedagang sudah siap dengan dagangannya yang pasti diburu untuk berbuka puasa.

"Aktifnya kembali jalur kereta Cibatu-Garut setelah mati suri lebih dari 40 tahun semakin menjadikan Citameng yang melegenda hidup kembali, sekarang ada aktifitas ekonomi pedagang kecil," ucap Iklima.

Dibalik indahnya hamparan ladang padi di Sawah Lega, ada kekhawatiran yang dirasakan olehnya.

Menurutnya, kawasan tersebut kini sudah mulai dipenuhi oleh bangunan-bangunan permanen yang menutupi keindahan hamparan sawah.

Di masa depan, ia khawatir Sawah Lega hanya tinggal sebuah nama.

"Tapi yang namanya juga zaman, pasti berubah, termasuk Sawah Lega, maka beruntung bagi mereka yang sempat menikmati keindahan Sawah Lega, di masa depan mungkin hamparan sawah itu hanya tinggal cerita," katanya. (*)

Baca juga: Cerita Pedagang Takjil di Cirebon, Sebulan Bisa Raup Rp 5 Juta dari Berjualan Kolak Dua Jam Sehari

Silakan baca berita Tribunjabar.id lainnya di GoogleNews

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved