Terlibat Percekcokan dengan Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, Ini Kata Ujang Bendo: Minta Keadilan
Nandang Suhendar (52), atau biasa dikenal dengan nama Ujang Bendo, mengatakan, awalnya ia hanya meminta untuk diundang dan diberi solusi.
Penulis: Padna | Editor: Hermawan Aksan
"Karena, yang menjadi kekecewaan saya terhadap pemangku kebijakan (Bupati Pangandaran), kok bertindak sewenang-wenang melebihi daripada dia itu sebagai pemimpin yang harus sayang terhadap rakyatnya dan melindungi rakyatnya. Itu, kekecewaan saya."
Menanggapi soal Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menyangkal melakukan pemukulan terhadapnya, Ujang mengatakan, itu bisa dibuktikan di pengadilan.
"Mungkin nanti kita juga ada saksi-saksi yang lebih menguatkan," katanya.
Ujang mengaku, ia menyobek stiker atau segel dari Pemda karena ia merasa kasihan terhadap pemilik dan pekerja di kafe atau warung remang-remang tersebut.
"Ya mungkin sebanyak 38 pemilik kafe, ada 200 sampai 300 orang pekerjanya yang setiap bulan berharap tempat kerjanya bisa dibuka, sekarang bisa dibilang ekonominya sangat merosot."
"Kalau berbicara tempat protitusi, ya sebenarnya bukan tempat protitusi. Karena, kalau bilang tempat protitusi harus ada tempat dagangan prostitusinya," katanya.
Menurut Ujang, di kafe tersebut hanya ada seorang karyawan yang mendampingi tamunya sambil mendengarkan musik sambil minum-minuman yang bisa disebut alkohol.
"Terlepas dari hal itu, jika tutup jam 1 malam ya, biasanya pekerja kafe itu masuk ke kamar masing-masing. Adapun kegiatan di luar daripada itu, itu bukan kewenangan kami dan kami tidak mengetahui," kata Ujang.
Setelah melakukan pelaporan, Ujang berharap ada keadilan dari penegak hukum, baik dari kepolisian maupun dari pengadilan.
"Ya, saya meminta keadilan. Jadi, tempuh proses hukum yang seadil-adilnya," ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Nandang-Suhendar-52-alias-Ujang-Bendo-vs-Bupati-Pangandaran-Jeje-Wiradinata.jpg)