Opini
Dukungan Digitalisasi Pendidikan bagi Dunia Industri di Indonesia
Di bidang pembangunan pendidikan, Indonesia saat ini beruntung karena memiliki Menristekdibud yang latarbelakangnya tidak lepas dari bidang teknologi
Oleh: Yon Daryono, M.Sos
Digitalisasi di segala bidang, bak tumbuhnya jamur di musim penghujan. Hampir seluruh sektor tidak bisa mengelak dan melawan arus deras perkembangan teknologi informasi berupa internet.
Khusus perkembangan internet dan pendidikan, Indonesia menjadi negara yang memiliki fenomena tersendiri dengan jumlah penduduk terbesar kempat di dunia setelah RRC, Amerika Serikat, India.
Berdasarkan lembaga DataReportal, jumlah perangkat seluler yang terkoneksi internet di Indonesia, hingga bulan Januari 2022 mencapai 370,1 juta. Angka ini memperkuat data lain yang dipublish GSMA Intelligence dimana jumlah total penduduk di Indonesia hingga Januari 2022 sebanyak 277,7 juta jiwa. (suara.com, 21 Februari 2022).
Mengacu pada komparasi data di atas, kita temukan ternyata jumlah perangkat seluler lebih banyak jumlahnya dari penduduk di Indonesia. Sementara lembaga GSMA Intelligence menyebutkan perangkat seluler di Indonesia setara dengan 133,3 persen dari total populasi yang ada.
Baca juga: Farhan Sebut Peralihan TV Analog ke TV Digital Tak Bisa Dihindari
Digitalisasi pembelajaran
Di bidang pembangunan pendidikan, Indonesia saat ini beruntung karena memiliki Menristekdibud yang latarbelakangnya tidak lepas dari bidang teknologi informasi dan digitaliasi.
Menristekdikbud, Nadiem Makarim sebelum menjadi menteri dikenal sebagai founder layanan berbasis aplikasi (GoJek). Bahkan startup lokal asli Indonesia ini terbukti mampu menjadi startup yang diperhitungkan di Indonesia.
Manakala pandemi covid 19 meledak hampir seluruh dunia paruh 2020-2021, sektor pendidikan pun terdampak. Aktivitas belajar mengajar yang selama ini dilakukan dengan konvensional berubah menjadi kebijakan daring. Adaptasi terhadap situasi pembelajaran yang berbasis teknologi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.
Negara di seluruh dunia pun tidak pernah membayangkan, bahwa pada akhirnya seluruh lini pendidikan bisa dan terbiasa dengan pembelajaran daring. Meski bagi sebagian kalangan, menilai, masih ada unsur plus dan minus menggunakan pola pengajaran berbasis teknologi digital.
Baca juga: Teknologi Ini Bisa Jaga Kesegaran Sayuran dan Buah Agar Kandungan Nutrisi Tetap Terjaga
Hampir dua tahun lamanya pelajar, mahasiswa, serta akademisi di Indonesia makin terbiasa dengan pembelajaran dam riset berbasis teknologi. Diantaranya menggunakan aplikasi pembelajaran zoom meeting maupun google meet. Bahkan dalam perkembangnnya, materi dan ujian dikonversi ke dalam platform google form, atau basis platform internet lainnya.
Plus minus
Dalam kegiatan 13th Annual International Symposium of Foreign Language Learning yang digelar 27-28 Oktober 2022 dan diikuti oleh 20 negara termasuk Indonesia, dibahas pengaruh besar pandemi covid 19 dalam sektor pendidikan. Nithiananthini Kumarawel dari perwakilan peserta, SEAMEO Secretariat menyatakan pandemi covid 19 memaksa institusi pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh. Efek yang paling terasa adalah hilangnya tingkat pembelajaran yang kian meningkat. Untuk itu diperlukan inovasi-inovasi baru dalam pengajaran. (Website kemendikbudristek, 1 November 2022)
Kegelisahan di seluruh dunia terkait dampak pandemi covid 19 sudah diantisipasi Kemendikbudristek. Tantangan pembelajaran yang dihadapi akibat pandemi covid 19, masyarakat dunia harus beradaptasi dengan masif memanfaatkan informasi digital dalam keseharian.
Hal itu terungkap dalam Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB): Ekosistem Teknologi untuk Akselerasi Pendidikan di Indonesia pada 11 Agustus 2022.
Tidak hanya di bidang pembelajaran, Kemenikbudristek, tengah menghubungkan dunia pendidikan, riset dengan sektor pelaku ekonomi, baik industri kecil menengah hinga manufaktur.
Tantangan kampus dan industri
Teknologi hadir sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemanfaatan teknologi sebagai titik pijak lompatan masa depan yang lebih baik. Satu diantaranya adalah Platform Kedaireka. Platform ini mempertemukan dunia kampus dengan industri dengan dukungan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ) serta KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia).
Dari data Kemendikbudristek hingga akhir tahun 2021, sudah terdapat 1.900 proposal riset yang difasilitasi Kedaireka. Termasuk melibatkan lebih dari seribu perguruan tinggi. Kadaireka menjadi platform marketplace agar siapapun bisa menaruh ide. Apabila di kalangan dunia usaha memiliki problem bisnis dan ingin dipecahkan masalahnya, maka mereka bisa submit di plaform ini. Kemudian satu sama lain akan memberi solusi bersama.
Kedaireka adalah solusi terkini mewujudkan kemudahan sinergi kontribusi perguruan tinggi dengan komersialisasi industri untuk kemajuan bangsa Indonesia. Ini sangat sejalan dengan visi misi Kampus Merdeka Kemenristekdikti. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana tools ini bisa terinternalisasi hingga ke daerah di seluruh Indonesia agar tercipta ekosistem bersama yang saling menguntungkan?
Strategi dan dukungan digital
Berangkat dengan dari potensi penduduk Indonesia yang sudah melek teknologi informasi, maka hal ini akan menjadi faktor pendukung penting terciptanya ekosistem pendidikan dan ekonomi. Terutama menuju target Indonesia Emas 2045, yakni negara maju di tingkat global yang berkarakter Indonesia. Strategi dan dukungan digital ini harus mempertimbangkan;
Pertama, jumlah kepemilikan ponsel terhubung internet akan menjadi faktor penting pelaku industri baik mikro, makro dan dan manufaktur terkoneksi dengan dunia kampus. Platform Kedaireka Kemenristekdikti bisa menjadi muara simbiosis mutualisme di era Indonesia emas.
Kedua, perlunya tampilan platform yang simpel sehingga tidak menyulitkan pelaku industri manakala meminta advice peluang bisnis kepada kalangan kampus. Terutama bagi para pelaku UMKM.
Ketiga, adanya kecepatan respon dari pihak platform untuk menerima, mengolah, dan menyampaikan feedback ke pelaku bisnis dan industri. Mereka akan terhubung secara digital dengan dasar hasil riset ilmiah pelajar, mahasiswa, dan dosen.
Terakhir, perlunya maintenance communication dari kedua belah pihak dari pusat hingga daerah. Saling memperkuat inovasi-inovasi unggulan agar tujuan awal program Merdeka Belajar di Indonesia bisa mendorong terciptanya, kemajuan. Tertutama di bidang pendidikan dan sektor ekonomi, bisnis serta industri di tanah air. Salam Indonesia Emas 2024. (*)
(Penulis adalah Sosiolog Alumni Universitas Jenderal Soedirman dan Universitas Padjadjaran)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/belanja-online.jpg)