Rabu, 15 April 2026

Tikus Sering Dianggap Hama, Tapi Warga Baleendah Ini Justru Dapat Keuntungan dari Beternak Tikus

Bagi kebanyakan orang tikus dianggap hama. Namun lain bagi DJ Hidayat WS (63), yang beternak tikus dan bisa menjadi berkah hingga mendapat keuntungan

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/LUTFI AHMAD MAULUDIN
Bagi kebanyakan orang tikus dianggap hama. Namun lain bagi warga Kampung Mulyasari, Baleendah, Kabupaten Bandung, DJ Hidayat WS (63) yang beternak tikus dan bisa menjadi berkah hingga mendapat keuntungan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bagi kebanyakan orang tikus dianggap hama, dan kerap dimusnahkan, sebab kerap merusak tanaman atau barang-barang jika di rumah.

Namun lain halnya bagi pria di Kampung Mulyasari, Baleendah, Kabupaten Bandung, DJ Hidayat WS (63).

Baginya tikus bisa menjadi berkah, dan sejak 2014 ia membudidayakannya.

Berawal dari memelihara dua tikus jantan dan 4 tikus betina, jenis mencit atau Mus musculus.

Hingga ia bisa menghasilkan uang jutaan rupiah dari hasil penjualannya.

DJ Hidayat yang akrab disapa DJ ini, bukan tanpa alasan ia memelihara tikus.

Awalnya, pria yang akrab disapa Abah DJ ini kesulitan menyediakan pakan terhadap hobinya memelihara reptil.

Saat itu Abah DJ memiliki, 8 ular, biasanya diberi makan ayam tiren, tapi saat beranak, ia kesulitan untuk memberi makan ular tersebut.

Baca juga: Hama Tikus Merajalela di Haurwangi Cianjur, Hasil Panen Menurun hingga 50 Persen

"Maka saya budi dayakan tikus pada, saat, sekitar pertengahan tahun 2014," ujar Abah, di kediamannya, Jumat (30/9/2022).

Namun memang, tikus yang dibudidayakan Abah DJ, bukan tikus yang seringkali ada di got. Tapi yang diternaknya, yakni tikus kecil atau mencit (Mus musculus), dan tikus albino atau tikus putih berjenis (Rattus novergicus).

Abah DH menjelaskan, awalnya budi daya tikus hanya 2 jantan, dan 4 betina jenis mencit. Namun akibat ada permintaan pemesan, ia beternak jenis rat.

"Alhamdulillah omset dulu sempat mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta lebih," kata Abah DJ.

Abah DJ mengatakan, itu juga hanya dijual ke komunitas saja, namun penjualan saat adanya Pandemi Covid-19 menurut. Kebanyakan para pembeli, menurutnya, untuk pakan ular peliharaan.

Baca juga: Viral Driver Ojol Ini Dapat Pesanan Antar Hewan Reptil di Jakarta, Pangku Reptil 1 Jam di Perjalanan

"Sejak pandemi penjualan turun, sehari paling ada seorang yang beli, pernah seminggu cuma ada dua pembeli. Tapi semoga, sekarang penjualan bisa naik lagi," tuturnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved