Harga BBM Naik, Tarif Air di KBB-Cimahi Ikut Naik, Disebut Telah Sesuai Kemampuan Pelanggan dan UMP

Tarif air pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja mulai naik. Ini telah disesuaikan dengan kemampuan semua pelanggan sesuai upah minimum provinsi

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/HILMAN KAMALUDIN
Direktur Operasional Perumda Air Minum Tirta Raharja, Asep Teddy Setiabudi saat memberikan keterangan soal kenaikan tarif di kantornya, Selasa (18/9/2022). Tarif air pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja mulai naik. Ini telah disesuaikan dengan kemampuan semua pelanggan sesuai upah minimum provinsi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Tarif air untuk pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja yang tersebar di Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dan Kabupaten Bandung, saat ini sudah mulai naik sebesar 20 persen.

Kenaikan tarif air sebesar 20 persen yang diberlakukan sejak September 2022 ini, dipastikan telah disesuaikan dengan kemampuan semua pelanggan sesuai dengan upah minimum provinsi (UMP).

Direktur Operasional Perumda Air Minum Tirta Raharja, Asep Teddy Setiabudi mengatakan, kenaikan tarif itu didasarkan pada kondisi operasional perusahaan yang meningkat, karena dengan kenaikan BBM berdampak juga terhadap kenaikan biaya operasional perusahaan.

"Jadi, seluruh kebutuhan operasional, baik itu bahan kimia produksi atau biaya lainnya, relatif semakin meningkat. Sehingga ada penyesuaian tarif rata-rata dikisaran 20 persen," ujarnya saat ditemui di Kantor Perumda Air Minum Tirta Raharja, Kota Cimahi, Selasa (20/9/2022).

Dia mengatakan, penetapan tarif air ini tidak sampai melampaui hingga 4 persen dari pendapatan masyarakat dan hal ini juga tergantung kelompok tarif pelanggan serta didasarkan pada pemakaian air dari pelanggan.

Baca juga: Mulai Hari Ini Jalan Sultan Agung Satu Arah, Dari Atas Tak Boleh Belok Kiri di Patung PDAM

Selain itu, kata dia, penyesuaian tarif ini juga sudah memenuhi keadilan pelanggan karena diterapkan melalui pengenaan tarif diferensiasi atau subsidi silang antarkelompok pelanggan dalam rangka mengoptimalkan penghematan penggunaan air.

"Mutu pelayanan juga dilakukan melalui penetapan tarif yang mempertimbangkan keseimbangan dengan tingkat mutu pelayanan," kata Asep.

Teddy mengatakan, kenaikan tarif didasarkan pada jenis tarif rendah (rumah tinggal sederhana), tarif dasar (rumah tinggal menengah), dan tarif penuh (rumah tinggal besar). Tarif rendah yang sejak 2017 ialah Rp 2.400 per meter kubik naik jadi Rp 3.500 per meter kubik.

Sedangkan tarif dasar yang semula Rp 4.700 per meter kubik jadi Rp 7.100 per meter kubik, sedangkan tarif tarif penuh yang semula Rp 7.100 per meter kubik jadi Rp 9.500 per meter kubik.

"Saat ini kami memiliki sekitar 82 ribu pelanggan di wilayah Kabupaten Bandung, 15 ribu pelanggan di Kota Cimahi, dan 11 ribu pelanggan di Kabupaten Bandung Barat," ucapnya.

Meskipun ada kenaikkan tarif, pihaknya tak khawatir bakal kehilangan pelanggan karena air minum yang diproduksi memiliki kualitas sesuai dengan standard kesehatan, sehingga bakal aman dikonsumsi oleh masyarakat.

Baca juga: Pilot Project Penurunan Kebocoran Air di PDAM Tirta Bumi Wibawa Sukabumi Temukan 40 Titik Kebocoran

Seorang pelanggan asal Leuwigajah Cimahi, Whisnu (32) mengatakan, keberatan dengan adanya kenaikan tarif air minum karena saat ini sudah banyak terjadi kenaikan harga, dari mulai BBM, gas, hingga sembako.

"Selain itu, saat musim kemarau aliran air ke daerah Cimahi Selatan kerap terhenti. Kalau kemarau tahun ini airnya memang enggak mati karena masih tetap ada hujan," ujar Wisnu. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved