Kapolres Subang AKBP Sumarni, Polwan Baik Hati yang Sering Membuatkan Warganya Rumah
Bagi masyarakat Kabupaten Subang, AKBP Sumani bukan sosok yang asing. Menjabat sebagai Kapolres Subang, ia dikenal sebagai polwan baik hati.
Penulis: Ahya Nurdin | Editor: Januar Pribadi Hamel
Oleh Ahya Nurdin
TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Bagi masyarakat Kabupaten Subang, AKBP Sumani bukan sosok yang asing. Menjabat sebagai Kapolres Subang, ia dikenal sebagai polwan baik hati. Gemar sekali blusukan dan suka menolong orang.
Salah satu yang rutin dilakukan AKBP Sumarni adalah membagi-bagikan paket sembako kepada warga di wilayah hukumnya.
Ia juga kerap menengok warganya yang sakit dan memfasilitasi pengobatannya. Bahkan tak jarang memberi bantuan kursi roda bagi warganya yang benar-benar membutuhkan.
Baca juga: Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo Resmikan 7 Satuan Baru Angkatan Udara di Lanud Suryadarma Subang
"Ibu Sumarni sangat baik hati dan dermawan. Saya dibuatkan rumah," ujar Ena (65), warga Tanjungsari Barat, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, dalam sebuah kesempatan.
Hal senada juga dikatakan oleh Sunarto, warga Desa Margahayu, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang. Ia juga mendapat bantuan rumah dari Sumarni.
"Semoga Allah membalas semua kebaikan Ibu Kapolres Subang, " ujarnya.
Eson (40) dan Nasih (75), warga Desa Jatiragas Hilir, Kecamatan Patokbeusi, Subang, juga mengaku pernah dibuatkan rumah permanen oleh Sumarni.
"Alhamdulillah sekarang kami sudah memiliki rumah permanen, dibuatkan sama Ibu Kapolres," ujar Eson dan Nasih.
Ditemui di rumah dinasnya di Subang, Rabu (31/8) malam, Sumarni hanya tersenyum mendengar cerita itu. Membantu siapapun yang sedang dilanda kesusahan, ujarnya, sudah menjadi kewajiban setiap orang. Terlebih lagi polisi, yang salah satu tugasnya adalah mengayomi masyarakat.
Perjalanan hidupnya hingga menjadi Kapolres seperti saat ini, ujar Sumarni, juga tak mulus dan seindah yang dibayangkan. Sumarni bukan berasal dari keluarga berada.
Ketika kecil, di saat anak-anak sebayanya sibuk bermain sepulang sekolah, Sumarni justru harus berjualan makanan dari kampung ke kampung untuk membantu ekonomi keluarga.
"Sekalipun hidup pas-pasan dan serba kekurangan saya tidak menyerah. Dalam urusan belajar sekolah maupun mengaji dan di kelas, saya selalu berprestasi dapat ranking," ujar perempuan asal Pontianak, Kalimantan Barat itu.
Saat menceritakan masa-masa sulit itu, beberapa kali terlihat Sumarni menangis.
"Jika mengingat pada masa-masa sulit dahulu, saya memang suka tak kuasa menahan tangis, karena betapa beratnya dulu saya menjalani kehidupan," ujarnya.
Sumarni bercerita, ayahnya adalah seorang mandor di Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat. Ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa.
"Saya sendiri berasal dari empat bersaudara," ujarnya.
Perjalanannya menjadi polisi, kisah Sumarni, juga hanya modal nekat.
"Nekat daftar menjadi polwan, sekalipun tak direstui oleh orang tua karena orang tua saya menganggap bahwa menjadi polwan itu harus pakai uang yang besar, sementara keluarga saya merupakan orang tak mampu. Namun Alhamdulillah, tak sepeserpun saya jadi polisi pakai uang," ungkapnya.
"Saya memberanikan diri mendaftar sebagai anggota polwan tahun 1996 dari Kalimantan Barat. Saat itu saya salah satu dari empat perempuan yang terpilih mewakili Kalimantan Barat mengikuti pendidikan Seba PK Polwan angkatan XX tahun 1996."
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Sumarni pun mengikuti pendidikan dengan gigih dan sungguh-sungguh.
"Alhamdulillah, setelah 11 bulan menjalani pendidikan, saya lulus dengan mendapatkan predikat terbaik di bidang akademik sehingga mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi program D3 PTIK Polwan tahun 1998, yang saat itu diadakan oleh Mabes Polri dalam rangka menggantikan kepemimpinan senior Polwan yang hampir pensiun," ujarnya.
Sumarni bercerita, langkahnya menjadi perwira juga bukan jalan yang mudah. "Menjalani pendidikan selama tiga tahun lamanya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan langsung menjadi Perwira pertama.
Ditempatkan di Secapa Polri di Sukabumi sebagai staf di Urjarlat dan juga sekaligus mengajar siswa Secapa saat itu," imbuhnya.
Enam bulan bertugas di sana, Sumarni dimutasi ke Mabes Polri sebagai Paurspripim Itjen Polri. Dalam kariernya, ia juga pernah bertugas di Polda Metro Jaya, pernah di-BKO-kan sebagai ADC Menperindag, dan pernah juga mengisi beberapa jabatan di Polres Jakarta Utara.
Berkat pengalamannya dalam penanganan tindak pidana korupsi di Dit Tipidkor Bareskrim Polri, ia juga pernah menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama empat tahun.
"Tahun 2012 saya di KPK selama 4 tahun, kemudian, dan Tahun 2016 setelah selesai mengikuti pendidikan Sespimmen angkatan ke 56, ditugaskan kembali di Bareskrim Polri. Tahun 2020 diberikan kepercayaan menjabat sebagai Kapolres Sukabumi kota dan 2021 sebagai Kapolres Subang," ujarnya
Kehidupannya yang sulit di masa lalu, ujar Sumarni, membuatnya selalu tersentuh jika melihat ada masyarakat yang hidupnya banyak kekurangan.
"Saya sangat memahami beratnya kehidupan warga masyarakat yang ekonominya agak sedikit sulit. Itu sebabnya, dalam setiap kegiatan keseharian saya, akan saya pergunakan untuk sebanyak-banyaknya membantu orang lain," kata Sumarni. (*)
Baca juga: Nongkrong Sambil Pesta Miras di Pinggir Jalan, Enam Remaja di Pamanukan Subang Diamankan Polisi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/AKBP-Sumarni-Kapolres-Subang-192022.jpg)