Tak Bisa Garap Lahan, Petani di Rawaurip Cirebon Hanya Bisa Gigit Jari, Padahal Harga Sedang Tinggi

Padahal, saat ini harga garam di tingkat petani cukup tinggi, sehingga seharusnya petani garam senang, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.

Tribun Cirebon/ Ahmad Imam Baehaqi
Kondisi tambak garam yang terendam rob di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Sabtu (27/8/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Sejumlah petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, tidak bisa memproduksi garam, karena tambaknya terendam banjir rob.

Salah seorang petani garam di Desa Rawaurip, Ismail Marzuki (35), mengaku hanya bisa gigit jari melihat lahan garam seluas 7500 meter persegi miliknya terendam rob.

Padahal, menurut dia, saat ini harga garam di tingkat petani cukup tinggi, sehingga seharusnya mereka senang, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.

Baca juga: Terendam Banjir Rob, Lahan Garam di Rawaurip Cirebon Tak Bisa Digarap, Padahal Harusnya Panen Raya

"Kalau harga sesuai kualitasnya, kisaran Rp 1000 - Rp 1300 perkilogram, dan bagi petani itu cukup tinggi," ujar Ismail Marzuki saat ditemui di tambak garam Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Sabtu (27/8/2022).

Ia mengatakan, tingginya harga garam tersebut dikarekana tidak adanya stok garam di gudang maupun yang diproduksi para petani akibat lahannya terendam rob.

Pihaknya mengakui, kondisi itu pun percuma bagi petani garam yang tidak dapat menggarap lahannya yang terendam rob saat air laut pasang seperti dirinya.

"Percuma saja, kalau petani bisa produksi garam harganya pasti anjlok Rp 100 perkilogram. Sekarang enggak produksi harganya malah naik," kata Ismail Marzuki.

Namun, tampaknya tidak semua petani garam di Desa Rawaurip tidak dapat menggarap lahan. Misalnya, Oman Mukti (47) yang berhasil memanen garam pada pertengahan Agustus 2022.

Baca juga: Petani Garam di Desa Rawaurip Cirebon Tagih Janji KSPMoeldoko Soal Revitalisasi Bibir Pantai

Oman mengakui, jumlah garam yang dihasilkan dari tambaknya juga tidak banyak, bahkan menurun drastis dibanding hasil panen pada 2019.

Ia menyampaikan, tambak garamnya yang dekat tepi laut juga sempat dihantam rob berkali-kali sehingga membangun tembok penahan dari tanah.

Pihaknya hampir setiap hari memperbaiki tembok penahan itu untuk memastikan keamanan tambaknya, sehingga seperti berlomba dengan banjir rob.

"Saya menggarap lahan dari Januari 2022 dan baru bisa panen bulan ini, ini lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya dan hasilnya juga tidak banyak," ujar Oman Mukti.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved