Dunia Tengah Hadapi Badai Dahsyat, Airlangga Hartarto : Begini Cara Menghadapinya.
Untuk membawa Indonesia menjadi negara maju, tantangan 5C ini harus dihadapi dengan semangat bersatu, bertransformasi, bekerja keras, berdoa
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua dewan pembina Golkar Institute, Airlangga Hartarto menyebut jika dunia saat ini sedang menghadapi tantangan The Perfect Storm atau badai yang dahsyat.
Hal itu diungkapkan Airlangga saat memberikan sambutan dalam acara Executive Education Program For Young Political Leaders atau program pendidikan bagi para pemimpin muda Golkar angkatan ke-8 dan diskusi publik dengan tema Tantangan Perubahan Iklim: Dimensi Ekonomi dan Politik, di Jakarta Senin (21/8/2022).
Dikatakan Airlangga, The Perfect Storm itu ditandai dengan 5 C yakni Covid-19, conflict, climate changes, commodity price, dan cost of living.
Baca juga: Program Government to Government, Airlangga; Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menurutnya, untuk membawa Indonesia menjadi negara maju, tantangan 5C ini harus dihadapi dengan semangat bersatu, bertransformasi, bekerja keras, berdoa, dan berorientasi pada hasil.
Golkar bersama PAN dan PPP yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), kata dia, sudah mengeluarkan Visi dan Misi KIB, yaitu Membangun Indonesia Maju.
"Visi dan Misi ini menjabarkan strategi kita menghadapi kelima tantangan 5C di atas, memanfaatkan masa bonus demografi Indonesia yang hanya berlangsung selama 10 tahun (2025 - 2035). Caranya, dengan melakukan transformasi ekonomi melalui PATEN: Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional," ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, salah satu dari tantangan 5C, yaitu Climate Change atau Perubahan Iklim, akan senantiasa menjadi topik penting di masa depan.
Indonesia, kata dia, sudah menandatangani perjanjian dunia di Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim dan Paris Agreement pada 2015 untuk menjaga agar kenaikan suhu bumi diabad ini tidak mencapai 2 derajat, bahkan kalau bisa tidak lebih dari 1,5 derajat.
"Apa bedanya kalau suhu naik 1 sampai 2 derajat? Sekilas dampaknya kecil, tapi sebetulnya bumi dan banyak makhluk di dalamnya sangat sensitif. Dalam kondisi normal, suhu tubuh manusia 36-37 derajat Celsius. Naik sedikit menjadi 38-39 derajat, kita sudah sakit demam dan tidak bisa beraktivitas," katanya.
Airlangga mengatakan, banyak flora dan fauna penting yang ikut merawat ekosistem bumi akan mati. Permukaan air laut akan naik. Banyak kota yang terletak di tepi laut akan tenggelam. Cuaca akan menjadi ekstrim. Pada saat musim kering, terjadi kekeringan dan gagal panen.
"Pada saat musim hujan, sebut Airlangga, terjadi banjir dan longsor. Kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat yang susah-payah kita bangun, bisa mundur lagi. Sebab itu Golkar harus hadir untuk masa depan," ucapnya.
Baca juga: Ditengah Ketidakpastian Global, Airlangga; Kinerja Impresif Ekonomi Jadi Kado Manis HUT RI Ke-77
Ketua Dewan Pengurus Golkar Institute, Ace Hasan Syadzily menambahkan, dalam Executive Education Program For Young Political Leaders ini para peserta bakal
mempelajari kondisi geopolitik dunia, komunikasi politik, kepemimpinan hingga strategi kampanye.
"Melalui program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pemimpin politik muda Indonesia dalam hal kepemimpinan, pemahaman politik dan ekonomi," ujar Ace Hasan Syadzily.
Executive Education Program for Young Political Leaders Batch 8 ini, kata Ace, diikuti oleh 39 peserta dengan beragam latar belakang yang memenuhi unsur keterwakilan gender dan daerah asal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/airlangga-saat-memberikan-sambutan-dalam.jpg)