Dinas Peternakan dan Perikanan Sumedang Bantah Beri Rekomendasi Perampasan Sapi Bantuan Kementan

Polemik perampasan sapi dari peternak oleh oknum anggota organisasi masyarakat di Sumedang, menyeret nama Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Darajat Arianto
Tribun Jabar/ Kiki Andriana
ILUSTRASI petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang memasang eartag (penanda) untuk hewan ternak sapi yang telah disuntik vaksin PMK) di Tanjungsari, Sumedang, Sabtu (2/7/2022). Polemik perampasan sapi dari peternak oleh oknum anggota organisasi masyarakat (Ormas) di Sumedang, menyeret nama Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan.  

Laporan Kontributor TribunJabar.id, Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Polemik perampasan sapi dari peternak oleh oknum anggota organisasi masyarakat (Ormas) di Sumedang, menyeret nama Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan

Nandang Suparman, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang membantah condong kepada satu pihak dari dua pihak yang saling rebutan sapi. 

Diketahui, dua pihak itu adalah kelompok peternak Maju Jaya 2 di Cilopang, Kecamatan Cisitu dan sebuah Ormas. 

Sapi sejumlah 20 ekor hibah dari Kementerian Pertanian yang telah sampai ke Maju Jaya 2, lima hari kemudian dirampas oleh Ormas itu.

Peternak hanya disisakan empat ekor sapi. 

"Enggak ada, saya tegaskan enggak ada rekomendasi," kata Nandang saat dihubungi Jumat (8/7/2022) 

Dia mengatakan namanya telah dicatut oleh oknum Ormas itu. 

Baca juga: Anggota Komisi IV DPR RI Sutrisno Marah Karena Bantuan untuk Peternak di Sumedang Dirampas Oknum

"Nama saya dicatut agar mereka mulus aksinya. Soal tudingan saya menekan peternak, silakan ngobrol langsung dengan saya, di mana tekanan saya?" katanya. 

Nandang menjelaskan mengapa polemik terjadi. Polemik itu terjadi karena Ormas punya jatah secara "lisan" dari Kementan, tetapi ormas itu di Sumedang belum punya kandang sapi. 

Maka, ormas itu mengontak peternak Maju Jaya 2 yang punya kandang dan sumber pakan yang jelas. 

"Dengan perjanjian tertentu antara kedua belah pihak. Tapi di tengah jalan perjanjian, mereka ribut," katanya. 

Begitu sapi datang, Ormas menagih perjanjian. Karena dalam hal itu, Ormas punya jatah, peternak punya legalitas. 

"Tapi peternak tidak mau karena mereka menganggap peternak yang berhak," katanya. 

Terjadilah perampasan itu. Nandang berlepas diri dari perseturusan dua kelompok peternak dan ormas itu. 

"Komitmen mereka dengan mereka itu di luar dinas," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved